Sebatang Kara, Kehidupan Kakek ini Bikin PMB Terenyuh

850 views

Kondisi rumah Satuman (70) sebelum dibangun oleh PMB. (FOTO: Istimewa)

BANGKALAN, MADURACORNER.COM- Kehidupan Satuman (70) warga Desa Jangkar, Kecamatan Tanah Merah, menjadi salah satu potret kemiskinan di Kabupaten Bangkalan. Kakek ini hidup sebatang kara, dan bergantung belas kasihan dari tetangganya.

Bahkan, Satuman harus tinggal di sebuah gubuk tak layak huni. Dindingnya terbuat dari bambu yang sudah rapuh, dan beratapkan seng bekas. Sedangkan atap bagian depan, hanya menggunakan terpal.

Tidak ada kasur, Satuman hanya tidur beralaskan ranjang kayu. Gubuk yang ditempati juga tidak memiliki pintu. Praktis, tubuhnya yang sudah renta harus menahan dan melawan dinginnya angin malam.

Kehidupan Satuman yang sangat memprihatinkan itu, memantik kepedulian Pemuda Madura Bersatu (PMB). Organisasi kepemudaan ini, dengan suka rela membangunkan rumah semi permanen.

“Beliau tidak punya anak, karena memang tidak pernah berkeluarga. Kondisi kehidupannya bikin hati kami terenyuh,” kata Ketua PMB, Sholeh Abdijaya, Kamis (18/10/2018).

PMB tengah membangun rumah semi permanen untuk Satuman. (FOTO: Istimewa)

Menurutnya, Satuman sudah tidak bisa mencari nafkah setelah menjalani operasi penyakit hernia. Selama ini, dia hanya bergantung uluran tangan dari tetangganya yang masih memiliki hati nurani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Dulu ketika masih sehat, beliau bekerja menarik becak. Tapi sekarang harus istirahat total,” imbuh Sholeh.

Ayah dua anak itu menuturkan, rumah semi permanen yang tengah dibangun PMB untuk Satuman berukukan 6×6. Sekalipun bangunananya tak semegah rumah pada umumnya, namun tetap layak huni, aman dan nyaman.

“Membantu warga yang terhimpit permasalahan ekonomi adalah panggilan moral bagi kami,” paparnya.

Sholeh berpesan, bagi siapapun yang mengetahui dan menemukan warga membutuhkan bantuan agar tidak menutup mata. Sebab, sering berbagi kebahagiaan dengan warga yang hidup serba kekurangan, menjadi ladang amal dalam kehidupan.

“Biaya yang digunakan itu semua dana pribadi PMB. Kami tidak pernah merasa rugi, karena kebahagiaan orang yang kami bantu tak ternilai harganya,” tandasnya. (*)

Penulis: Riyan Mahesa

Editor: Ahmad