Sekep: Lambang Kejantanan Laki-Laki Madura

1984 views

5

Bangkalan, Maduracorner.com – Salah satu kebanggaan yang kerap menjadi teman hidup bagi orang Madura ialah “sekep”. Sekep dalam pengertian umum ialah bentuk senjata yang biasa diselipkan dipinggang sebagai jaminan keselamatan hidup bagi pemakainya. Dan sekep ini bukan hanya menjadi jaminan di perjalanan. Saat tidur atau saat-saat tertentu sekep juga tidak lepas dari sisi (bagian) pemiliknya.

Senjata yang disekep, ada beberapa macam bentuk, biasanya bentuk senjata tajam yang mudah diselipkan dipinggang. Baik berupa pisau, clurit, golok, keris dan atau sejenisnya. Maka tak heran bila suatu ketika berpapasan dengan seseorang Madura, khususnya orang-orang Madura yang hidup di pedesaan, akan tampak tonjolan kecil dibalik baju bagian pinggang.

Pada dasarnya orang yang bersekep atau “nyekep”, hanyalah semata-mata menjaga kemungkinan untuk lebih waspada bila suatu ketika harus berhadapan dengan lawan maupun pada saat suasana genting menghadapi ancaman disekitarnya.

Dan sekep itu sendiri pada umumnya dimiliki oleh kaum pria. Tapi tidak menutup kemungkinan, kaum wanitapun tak lepas dari yang namanya sekep itu. Cuma bedanya, sekep bagi kaum wanita Madura kerap disebut “patterm”, yaitu berupa konde yang diisi racun yang disusukkan disanggul. Fungsinyapun sama, sebagaimana yang digunakan oleh kaum laki-laki, yaitu untuk menjaga diri bila suatu ketika diserang oleh lawan atau penjahat yang mengganggunya. Atau juga untuk berjaga-jaga dirumah bila suatu ketika sang suami harus berlama-lama meninggalkan rumah.

Sebagaimana dimaklumi, bahwa suatu bentuk kebiasaan para orang Madura lama, wanita merupakan bagian yang sangat penting bagi kaum pria. Maksud disini, kaum wanita merupakan lambing kehormatan dan prestise bagi kaum pria. Maka tak heran, bila akhirnya sampai terjadi keributan pada awalnya kebanyakan ditimbulkan oleh masalah wanita.

29wk16x

Terlepas dari fungsi senjata tajam bagi orang Madura yang tradisional dijadikan alat pengaman bagi dirinya, juga mempunyai nilai tradisi turun temurun, bahwa lambang kejantanan bagi orang Madura terletak bagaimana kemantapan dan ketegaran dirinya tatkala mereka bersekep dipinggangnya. Untuk itu dalam masyarakat Madura lalu timbul pemeo, bila seorang laki-laki tidak “nyekep”, tak lebih dari seorang banci.

Namun kenyataan yang terjadi pada peristiwa-peristiwa pembunuhan, senjata yang banyak bicara ternyata senjata tajam yang berbentuk celurit (Caloret, Mdr), yang kerap dijadikan identitas senjata tajam orang Madura.

Celurit sebenarnya tak lebih dari “are’(arit)”, mungkin karena bentuknya lebih besar dan lekukan panjang, maka celurit sangat beda bila dibandingkan dengan senjata tajam lainnya. Sedang are’ yang memiliki bentuk hamper sama dengan celurit, kerap digunakan sebagai penyabit rumput atau kebutuhan lainnya yang sifatnya sebagai alat pemangkas.

images

Senjata tajam sebangsa celurit sebenarnya terdiri banyak jenis dan bentuknya, antara lain are’ lancor, takabuwan, bulu ajem, bulu pete’, daun perrengan, karangkengan dan sejenisnya. Sedang bentuk senjata tajam konvensional lainnya, juga banyak macamnya, yakni ; taji, gobang, cakkong, bireng, pangabisan, todi’, golok, tombag, dan lainnya sesuai dengan fungsi dan keperluannya.

Sekep bukan hanya dalam wujud benda saja. Justru dibalik benda yang disekep itu, tersimpan suatu kekuatan yang mungkin tak terduga sebelumnya, yaitu bila saat digunakan (katakanlah untuk membunuh orang) mempunyai akibat yang lebih fatal bagi korbannya. Sebab benda (tajam) tersebut telah “diisi” suatu kekuatan yang melebihi senjata tajam yang disekep.

Di lain hal, sekep-sekep tertentu mempunyai fungsi lain, yaitu sebagai alat penangkal bila berhadapan dengan lawan (musuh). Sekep semacam itu, merupakan senjata yang cukup ampuh untuk menipu lawan. Sebab lawan yang dihadapi tidak tampak pada dirinya, sedang yang ber-sikep akan lebih leluasa melakukan serangan. Hal ini tentu berlaku bagi lawan yang “kosong” tenaga dan ilmunya.

Ada juga jenis sekep yang cukup diletakkan dibagian pintu rumah. Sekep ini berfungsi untuk menghalangi bila suatu saat ada orang yang bermaksud jahat, misalnya pencuri. Apabila sebuah rumah telah dilengkapi dengan sekep semacam ini, maka rumah itu akan selalu aman dari tangan-tangan jahil. Karena siapa yang bermaksud jahat memasuki rumah itu, seakan mereka dihadapkan oleh berbagai keganjilan.

Peristiwa semacam ini pernah terjadi di sebuah desa, di kecamatan Dungkek Sumenep. Seorang pencuri berhasil masuk dan menggaet perabot rumah tangga. Namun beberapa saat kemudian terdengar suara ombak yang mendebur diluar rumah. Mendengar suara itu tentu sang pencuri kalang kabut, maka secepat kilat ia keluar rumah. Namun apa yang terjadi, ternyata disekitar rumah itu telah berubah menjadi laut yang menggenangi disekitar rumah. Melihat kenyataan itu, sang pencuri tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuggu air surut. Hingga pagi hari, ia baru tersadar bahwa ia telah terjebak oleh tipuan kekuatan magis yang dipasang pemilik rumah. Dan akibatnya, masyarakat setempat tidak sulit menagkap pencuri tersebut lengkap dengan bukti barang curiannya.

Dan banyak lagi tipuan-tipuan fatamorgana semacam ini dengan berbagai macam bentuk dan akibatnya, bahkan menurut cerita jebakan-jebakan semacam itu seakan pencuri terdampar ditengah hutan belantara lengkap dengan binatang buasnya

Pada umumnya, sekep diperoleh dari turun temurun nenek moyang mereka merupakan benda (harta) sangkol (waris) yang tidak dapat dipindah tangankan kepada orang lain. Baik sebagai wujud pemberian maupun penjualan. Bila hal ini dilangkahi, sebagaimana keyakinan mereka maka akan berakibat buruk bagi pemiliknya.

Fungsi lain, sekep dapat memberikan kekebalan bagi si pemakai. Sekep semacam ini biasanya banyak digunakan orang-orang Madura ketika berhadapan dengan musuh pada jaman pra kemerdekaan. Sekep semcam ini, biasanya banyak diperoleh dari seorang kyai sebagai senjata terselubung antara lain disebut “ jasa’ ”. Pada jaman Hisbullah dan terakhir saat terjadi pemberontakan G 30 S PKI, banyak orang Madura menggunakan “ jasa’ “. Jadi apabila seseorang telah di-jasa’, maka mereka akan bebas menyerang musuh meski dengan menggunakan senjata apapun.

Pada tahun terakhir ini, sekep banyak dicari orang karena sekep yang ampuh tentu memiliki nilai tinggi, dan mereka berani membeli dengan harga jutaan rupiah, khususnya bagi orang-orang yang gemar menyimpan senjata tajam. Puluhan tahun yang silam, memang tidak begitu sulit untuk mendapatkannya, karena sementara orang masih ada yang “nglakoni” untuk mendapat wangsit dalam bentuk sekep yang benar-benar mapan dan ampuh. Namun, mungkin kesadaran masyarakat semakin tinggi, atau sesepuh-sesepuh pengolah sekep semakin berkurang, maka sekarang jarang ditemui di Pulau Madura.

Cara memperoleh sekep ada beberapa cara. Ada yang secara langsung memesan kepada empu (pande) bila dalam bentuk senjata, ada pula yang secara langsung “nyepi” dan bersemedi ditempat (kuburan) leluhur yang dianggap keramat. Cara pertama, memang lebih gampang, yaitu setelah benda yang dipesan jadi, maka untuk selanjutnya diisi (jasa’) yaitu diisi kekuatan magis yang hanya orang-orang tertentu bisa melakukannya. Untuk yang satu ini, saratnya harus memiliki kekuatan yang sama

Keris

Artinya disamping sekep sebagai pendamping hidupnya kelak, sang pemilik harus membekali “ilmu” yang melebihi dari sekep itu sendiri. Sebab apabila lebih kuat sekepnya, maka tak heran akan berakibat fatal bagi pemiliknya bahkan mungkin berpengaruh besar terhadap ketenangan dan ketentraman kehidupan rumah tangganya. Yaitu besar kemungkinan akan selalu ditimpa musibah, penyakit yang tidak mungkin disembuhkan melalui medis atau mungkin selama memiliki sekep itu selalu dililiti kekurangan dalam penghidupan sehari-hari, bahkan harta bendanya bisa ludes karena sekep itu. Hal yang demikian, orang Madura menyebut “karas” atau “taras”.

Mungkin begitulah mengapa hingga kini kalangan orang Madura tradisional tidak lepas dari sekep, yang menjadi lambang kejantanan.

Penulis : Syaf Anton Wr

Tulisan diatas menyalin dari : lontarmadura.com

By: Jiddan

Email Autoresponder indonesia