Seminar Setrategi Pemasaran Garam Yang Digelar DKP, Sepi Peserta

Program Pemberdayaan Usaha Garam |  Oleh : Aryan

suasana seminar. banyak kursi undangan yang kosong-foto : Aryan/MC.com

suasana seminar. banyak kursi undangan yang kosong-foto : Aryan/MC.com

Maduracorner.com,Bangkalan – Acara Seminar Setrategi Pemasaran Garam dan Program serta  Pemberdayaan Usaha Garam (Pugar) yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bangkalan di Hotel Ningrat Jalan Teuku Umar Bangkalan, Selasa, (26/11) pesertanya sepi. Seminar tersebut hanya dihadiri oleh belasan undangan saja.

Salah seorang peserta seminar yang juga petani garam, Nurholis, warga Kecamatan Tanjung Bumi mengatakan, seminar pugar itu terkesan tanpa greget dan hanya dihadiri oleh belasan petani garam, beberapa kepala desa, bahkan banyak sekali kursi undangan yang kosong. Sebab selain pesertanya tidak diberi buku-buku yang berisi topik seminar, undangan hanya disuruh mendengar seminar yang terkesan membosankan.

“Dari beberapa kali saya menghadiri undangan seminar semacam ini, topiknya dari itu ke itu saja. Yang dibutuhkan oleh petani garam saat ini bagaimana harga garam tidak anjlok dan seandainya pemerintah bisa membantu menaikan harga garam, realisasi dilapangan kapan,”  kata Nurholis.

Pakar dan ahli pemasaran garam Burhanudin dari Kabupaten Sampang yang menjadi nara sumber pada acara seminar itu mengatakan, saat ini garam itu ibarat gula, banyak yang memburu dan memetik hasilnya tanpa ada yang mampu mengerem dan bisa melenggang dengan bebas. Tetapi mengapa harga garam ditingkat petani masih tetap rendah.

“Ironi memang, laut kita seluas 90 kilometer dan dikenal sebagai negara maritim tapi hingga saat ini kita masih mengimport garam dan harga garam ditingkat petani harganya masih rendah. Itu, karena harga garam belum memihak kepada petani garam dan menguntungkan pihak-pihak tertentu. Termasuk harga garam ditingkat petani dibeberapa kecamatan  yang dikenal sebagai penghasil garam berkualitas di Kabupaten Bangkalan hingga kini masih tetap mengeluh karena garam yang dihasilkan dibeli dengan harga dibawah standart dan belum memihak kepada rakyat kecil,” ujar Burhanuddin.

Itu sebabnya kata Burhanudin, pada acara seminar ini kita akan coba mencari jalan keluarnya agar para petani garam tidak selalu dijadikan sapi perah, dan nantinya diharapkan mampu meningkatkan hasil usaha mereka. Disisi lain, jebloknya harga garam karena harga garam belum memihak kepada rakyat sehingga butuh waktu dan prospek garam rakyat menuju blue ekonomi masyarakat di Kabupaten Bangkalan untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam masih jauh dari harapan. (yan/min)

Email Autoresponder indonesia