Simbolitas dan Perangkat Pangantan Tandhu

772 views

5

Bangkalan,Maduracorer.com – Pelaksanaan pangantan tandhu di desa Legung Timur itu ada dua macam, yang pertama hanya bertunangan yang kedua memang mengadakan pernikahan atau gabai. Bedanya adalah jika hanya bertunangan hanya ada proses pangantan arak tetapi sebaliknya jika memang ada pernikahan (akad nikah) maka proses pangantan tandhu dimulai dari awal hingga proses akhir.

Hal yang membedakan terjadinya akad nikah pada pangantan tandhu adalah pada proses babbarang. Yaitu berupa hantaran bahan-bahan yang diperlukan sebagai jamuan untuk orang-orang yang datang pada acara akhir yaitu pangantan jajar.

Hal-hal mengenai tradisi Pangantan Tandhu yang dilaksanakan tidak diketahui sejak kapan dimulai karena tidak ada cerita tutur yang menjelaskan itu. Ini dihubungkan dengan karakter para orang terdahulu yang umumnya mereka adalah santri walau tidak di pondok pesantren, namun mereka mendapat pendidikan pertama di langgar atau surau dimana mereka di didik untuk sami’na waatha’na, jadi mereka hanya mendengar dan taat. Dari mereka lahir, tumbuh menjadi bayi, anak, tumbuh menjadi remaja hingga dewasa lalu dinikahkan oleh orang tua mereka hanya mencontoh apa yang dilakukan oleh orang tua mereka untuk dipraktekkan nanti kembali pada anak mereka kelak. Kejadian ini berlangsung begitu lama tidak ada yang tahu kapan permulaan pangantan

tandhu ini dimulai beserta tradisi lainnya seperti tajin sanapora, tajin mera pote, peret kandhung, toron tana, nyanyokor, kerapan sapi, tok tok, ojung tidak diketahui kapan mulai dilaksanakan hanya yang bisa diidentifikasi waktu pelaksanaannya. Perlengkapan untuk pengantin pangantan tandhu terdiri dari busana pengantin tradisional berupa pakaian adat pernikahan lengkap. Berikut gambar lengkap untuk pakaian adat pernikahan pangantan tandhu baik pakaian adat pengantin pria dan wanita adalah sama.

Pakaiannya bernama rapek sejenis sarung terdiri dari tiga warna yaitu merah kuning hijau. Di belakang punggung diikat kain lagi yang disebut dengan sasembung. Menggunakan sabuk perut dan lengan, untuk perut disebut dengan napending sedangkan lengan disebu dengan kalebbau.

Untuk perlengkapan leher diberi dua macam kalung yaitu kalung yang biasa disebut dengan kalong mantan dan kalong malathe atau kalung dari bunga melati. Pada hiasan kepala di kening diberi hiasan yang disebut dengan karpatu biasanya berbentuk seperti rangkaian setengah lingkaran yang bergelombang. Di atas kepala dipakaikan semacam mahkota yang disebut dengan jemmong. Mahkota tersebut juga diberi hiasan berupa

rumbai-rumbai yang menjuntai ke bawah berwarna hijau yang biasanya disebut dengan ganggung/rambai. Selain itu juga dihiasi dengan kembang mabar atau bunga mawar, juga terdapat kembang kananga atau bunga kenanga, rol merah dan sejenis konde yang biasanya disebut dengan tanduk.

Untuk tata rias wajah pengantin atau make up seperti tata rias wajah pengantin pada umumnya yang terdiri dari (blush on, eye shadow, eye liner, lipstik, bedak, foundation, alis, penjepit bulu mata, bedak kuning dan sebagainya), sanggul, konde, kembang goyang, gading kuning, bunga melati , bunga sedap malam, bingkisan, panyanggek (berupa sepasang ayam dari kayu yang melambangkan tekad pengantin pria yang ulet dalam menempuh kehidupan.),dulban (merupakan sejenis roti kemudian di atas roti tersebut ditancapkan bendera berupa uang kertas.

Uang kertas tersebut bisa bermacam-macam nominalnya semakin besar angka nominal uangnya maka semakin tinggi pula status sosial dari pihak pengantin pria), bunga sekar mayang kelapa, pangonong, judang (sejenis talam atau wadah), sirih dan pinang, kendi, damar kambang (sejenis lampu minyak), aneka macam kue, gendhung,gempa, jaran kenca’, tembang-tembang macapat (masyarakat Madura bisanya menyebut dengan mamaca. Isi dari mamacatersebut berupa hadits-hadits dari Nabi Muhammad SAW), topeng dalang , sinden.

Pra Pelaksanaan Pangantan Tandhu

Proses awal pernikahan dimulai dengan tahapan mencari jodoh dan persiapan fisik dari calon pengantin. Pada tahapan mencari jodoh dibagi menjadi tiga bagian yang dikenal dengan sebutan:

1. Ngen-angen

Pada proses ini orang tua akan berusaha mencari calon istri untuk anaknya yang sudah dewasa dan berkeinginan mencari pasangan hidup dengan meminta bantuan kepada seseorang yang disebut dengan pangadha’. Pada umumnya orang yang dianggap sesepuh adalah orang yang tepat untuk menjadi sebagai pangadha’

Pangadha’ adalah orang yang dianggap sesepuh. Orang yang dihormati dan disegani. Tidak ada imbalan atau sejenisnya bagi seorang pangadha’ karena semua yang terlibat dalam acara ini adalah masih kerabat keluarga.

Dari sejak zaman dahulu sampai sekarang yang selalu mencari jodoh untuk anaknya adalah dari pihak pria. Ini adalah adat yang harus dipegang teguh.

2. Arabas Pagar

Peran pangadha’ mencari keterangan calon pengantin yang diincarnya melalui kerabat dekat atau tetangga gadis untuk memperoleh keterangan apakah sang gadis sudah mempunyai tunangan atau tidak. Setelah melalui proses tersebut maka dimulailah proses lanjutan yang disebut dengan masa abakalan atau tunangan

Peran pangadha’sangatlah berat karena akan mencarikan calon pengantin untuk kerabatnya. Calon pengantin yang dicari adalah gadis yang baik dan kalau bisa juga masih mempunyai hubungan kekerabatan.

3. Nyabak jajan / lamaran

Calon mempelai laki-laki mengirimkan seperangkat alat-alat keperluan wanita yang dibawa oleh rombongan secara beriringan seperti kain, seperangkat perhiasan emas (bagi yang mampu), beddha’, serta segala macam kue-kue dan makanan khas daerah tersebut yang disebut dengan ban-giban. Selang beberapa hari setelah menerima pemberian dari pihak laki-laki maka pihak wanita segera membalas dengan member seperangkat keperluan calon laki-laki dengan berbagai macam masakan atau makanan serta ikan yang dibawa oleh kerabat dekat. Proses ini disebut dengan balassan. Setelah proses ini selesai maka resmilah mereka bertunangan.

Setelah ketiga proses itu sudah dilaksanakan maka proses selanjutnya adalah proses persiapan fisik dari calon pengantin, terdiri dari dua tahap, yaitu:

1. Proses Epengit

Setelah proses nyaba’ jajan / peminangan dilakukan proses epengit. Epengit berarti dipingit. Kegiatan ini dikhususkan bagi calon pengantin wanita. Tujuan dari kegiatan ini adalah secara fisik agar selalu kelihatan selalu segar tanpa adanya kegiatan yang melelahkan di luar rumah.

Kedua agar tidak terjadi hubungan ilegal dengan pria lain yang mempunyai tujuan untuk merusak status pertunangan mereka. Ketiga, secara psikologis untuk menghindarkan diri dari roh-roh halus. Mereka mempunyai kepercayaan semacam yang disebut dengan ero’-toro’ /epo’- capo’ atau terkena roh halus.

Calon pengantin wanita harus dipingit karena hal tersebut merupakan bagian dari ritual yang harus dilaksanakan. Hal ini juga demi kebaikan calon pengantin wanita agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Misalnya, tidak akan diganggu oleh pria lain yang berniat tidak baik yaitu untuk merusak status pertunangan, kemudian untuk menghindari diri dari gangguan roh-roh halus atau barang ghaib.

2. Proses Mamapar

Berikutnya adalah persiapan fisik dari calon pengantin yaitu berupa kegiatan mamapar . Mamapar merupakan kegiatan meratakan gigi, karena anggapan orang setempat, gigi yang indah adalah gigi yang rata.

Ada kegiatan mamapar agar calon pengantin mempunyai gigi yang indah, rata agar enak dipandang mata. Apabila calon pengantin terlihat menawan maka akan bahagia semuanya.

Proses Inti Pelaksanaan Pangantan Tandhu

Pada hari H pelaksanaan atau akad nikah dilaksanakan di rumah mempelai wanita. Satu hari menjelang hari H ada ritual yang harus dilaksanakan yaitu seorang penjaga khusus yang dituakan dari pihak pria dengan berpakaian serba tertutup membawa kendi berisi air dan dammar kambang agar nyala damar kambang tetap menyala baik, karena segala sesuatu bisa diprediksi dari nyala api damar kambang dan orang orang tertentu yang memiliki keahlian khusus membaca jalannya nyala dammar kambang.

Air dalam kendi harus dituangkan sedikit demi sedikit di sepanjang perjalanan menuju rumah mempelai wanita, sedangkan damar kambang diletakkan di kamar wanita. Damar kambang dan kendi berisi air berfungsi sebagai pembukaan jalan demi keselamatan kedua mempelai agar terhindar dari gangguan orang dan roh-roh halus ketika pelaksanaan acara kabin atau akad nikah. Satu hal yang harus dihindarkan oleh pelaksana ritual ini adalah dilarang berbicara dengan orang lain di sepanjang perjalanan menuju rumah mempelai wanita.

Dalam pelaksanaan damar kambang memiliki sandingan yang harus selalu ada yaitu jajan pasar atau jajan bastaan 7 macam satu jenis jajan.

Ada kembang dhu’ remmek yang terdiri atas kembang cempaka yang diberi kembang melati dan mawar serta ditaburi kembang babur (daun pandan yang dirajang). Hal kembang ini dimaksudkan agar kehidupan yang dijalani bisa berkembang dan membawa nama harum keluarga.

Kembang dhu’ remmek dalam bahasa madura dhu’ berarti ungkapan kesakitan atau pengharapan atau keluhan yang diucapkan dalam do’a kepada Allah, misal dhu guste pangeran (yang artinya ya Allah). Remmek artinya merasakan badan tidak sehat karena kecapkan atau berarti hancur berkeping keping yang kalau diartikan secara harfiah dhuremmek mengandung arti pengharapan pada Allah agar keluarga ini tentram damai tidak mengalami perpecahan dan kehancuran. Berikut merupakan proses; inti dari pelaksanaan Pangantan Tandhu

Penulis : Venita Nurdiana, 2012 Pangantan Tandhu Sebuah Kajian Tentang Tradisi Pernikahan Masyarakat Desa Legung Kabupaten Sumenep dan Nilai Pendidikannya”. Skripsi, Program Studi Ilmu Sejarah Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universiras Negeri Malang”

Tulisan diatas menyalin dari : http://www.lontarmadura.com

Email Autoresponder indonesia