SKK Migas Apreasiasi Renegosiasi Kontrak Pengadaan Rig PHE WMO

image

Bangkalan, maduracorner.com– Sekretaris Satuan Kerja (SKK)
SKK Migas apresiasi rencana ulang negosiasi/ renegosiasi kontrak pengadaan rig yang dilakukan PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO). Hal tersebut disampaikan oleh Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Budi Agustyono, Jum’at, (25/9/2015). Menurut Budi Agustyono, Selain PHE WMO, Total E&P Indonesie juga melakukan langkah serupa. Karena itu, renegosiasi kontrak itu menjadi contoh yang bisa diikuti KKKS lainnya untuk  menjaga keenonomian proyek yang telah direncanakan.  ‘’Ada 2 contoh kasus renegosiasi kontrak rig positif yang dilakukan oleh Total E&P Indonesie dan PHE WMO,’’ terang Budi Agustyono saat membuka Rapat Koordinasi Kehumasan Industri Hulu Minyak dan Gas Bumi se-Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Rabu lalu.

Dijelaskan Agus, pencapaian target nasional bukan hal yang mudah karena terdapat kendala dalam pelaksanaan di lapangan. Apalagi di tengah turunnya harga minyak dunia. Itu sebabnya industri hulu migas dituntut melaksanakan efisiensi biaya operasi. Juga melakukan perubahan skenario operasi lapangan yang lebih sederhana serta kolaborasi operasi dengan perusahaan migas yang wilayahnya berdekatan, seperti sharing penggunaan material dan peralatan.

Dia menambahkan, sekalipun harga minyak dunia sedang turun dari 100 dollar/barel menjadi 50 dollar/barel pada tahun lalu. Namun PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) tetap berupaya memenuhi target produksi migas yang ditetapkan pemerintah dan melakukan berbagai efisiensi biaya operasional, PHE WMO juga melakukan renegosiasi ulang pengadaan rig dan servis pengeboran untuk mendapatkan harga yang lebih murah hingga 25%. “Bila target itu terpenuhi, PHE WMO berharap  bisa mulai melakukan pengeboran 5 sumur pengembangan dan 1 sumur eksplorasi pada tahun 2016 nant,” papar Budi Agustyono.

Terpisah, President / General Manager PHE WMO Boyke Pardede, dikonvirmasi mengatakan, proses tender pengadaan 3 anjungan tengah berlangsung. Termasuk proses pengadaan rig untuk pengeboran 5 sumur pengembangan dan 1 sumur eksplorasi juga masuk tahap prakualifikasi. Terlebih, saat ini, harga minyak dunia turun 50 persen, PHE WMO berharap harga sewa rig dan servis pengeboran juga bisa turun 25 persen.Boyke menambahkan, pembangunan 3 platform dan pengeboran 5 sumur pengembangan serta 1 sumur eksplorasi tersebut sebenarnya merupakan proyek 2015, tetapi pengerjaannya ditunda menjadi 2016. “Di awal 2015 lalu PHE WMO masih ada aktivitas pengeboran sumur pengembangan dan well works untuk memenuhi target produksi. Tetapi karena harga minyak masih belum membaik, pengeboran sumur lainnya kita tunda sampai dengan 2016,” katanya.

Lebih lanjut Boyke menuturkan, PHE WMO berkomitmen untuk terus mendukung kinerja industri migas nasional. Di tengah kondisi harga minyak dunia yang mengalami penurunan signifikan, terjadi beberapa penyesuaian terhadap aktivitas perusahaan. Namun demikian,usaha-usaha untuk mencapai target produksi tetap dilaksanakan.

Sementara itu, Dirut Pertamina Dwi Sutjipto usai melakukan kunjungan ke FSO Abherka, memberikan dukungan pada PHE WMO untuk melanjutkan pengeboran sumur produksi  ataupun kegiatan eksplorasi untuk menambah cadangan di lapangan PHE WMO. Dengan melakukan pengeboran sumur baru di Blok WMO. Karena seluruh produksi minyak PHE WMO tersebut dipergunakan untuk memasok kilang di dalam negeri, baik itu yang ada di Cilacap ataupun Balongan. Demikian juga seluruh produksi gas PHE WMO untuk memasok kebutuhan energi listrik Pembangkit Jawa Bali (BJB) dan PGN. “Melihat biaya produksinya masih di bawah 42 dollar per barel, tidak ada alasan untuk tidak melakukan pengeboran sumur baru di PHE WMO,” pungkasnya. (yan/mad).

Penulis : Aryan
Editor.  : Mamad El Sahraawy