Sofi, Pembatik Satu Tangan Dari Tanjung Bumi

1109 views
Sofi, 'maestro' pembatik satu tangan. foto : agus/mc.com

Sofi, ‘maestro’ pembatik satu tangan. foto : agus/mc.com

Keistimewaan Dibalik Keterbatasan | oleh : Agus
Maduracorner.com, Bangkalan – Batik menarik perhatian  bukan semata- mata karena hasilnya, tetapi juga karena proses pembuatannya yang membutuhkan keterampilan, ketelatenan dan kesabaran dari pembuatnya. Ketelatenan dan kesabaran itulah yang membuat gadis pemilik nama Sofiyah (33) ini terus berkarya dan mengasah keterampilannya dalam membatik.

Tubuh yang tidak sempurna kadang  membuat seseorang putus asa untuk berkarya. Namun, tidak dengan gadis yang akrab disapa Sofi ini,  meski hanya memiliki satu tangan, justru dirinya semakin termotivasi untuk terus berkarya. Hal itu, dibuktikan dengan kemahirannya membatik hanya menggunakan tangan kiri. Keterbatasan yang ada justru menjadi kelebihan tersendiri dari Sofi.

Perempuan murah senyum ini terlahir di kampung batik  Desa Paseseh, Tanjung Bumi. Dari kampung ini pula, Sofi mulai membatik sejak usia 9 tahun. Ia membatik hanya dengan satu tangan (tangan kiri), karena sofi memang tidak memiliki tangan kanan bawaan sejak lahir. Namun, karyanya tidak kalah dengan pembatik lainnya. Bahkan, batik karyanya lebih halus dibanding dengan rekannya yang menggunakan dua tangan.

“Saya membatik sejak usia 9 tahun, meski dengan kondisi terbatas saya tidak putus asa,” ujarnya tersenyum.

Perempuan yang juga berprofesi sebagai guru ngaji ini mengaku, belajar membatik dari ibunya sejak kecil, karena tidak ada aktivitas lain selain hanya membatik. Membatik bagi Sofi sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Sofi terlihat sangat cekatan dan lihai saat menggoreskan malam di atas kain putih yang sudah ada motifnya.

Kualitas karya batik Sofi tersohor tak hanya di kampungnya. Terbukti, banyak pesanan yang justru datang dari orang-orang dari luar Madura. Diantaranya, Kota Jakarta, Surabaya dan Kalimantan, termasuk pecinta batik dari Malaysia. Tak ayal, dari buah hasil membatik, Sofi dapat membantu adik dan ponakannya yang saat ini masih mengenyam pendidikan disalah satu pondok pesantren.

Kegigihan dan keyakinan yang kuat membuat Sofi tidak pernah menyerah untuk berkarya. Motivasi ini yang ingin Sofi buktikan, bahwa terlahir dengan tidak sempurna tak menjadi aral untuk dapat berkarya seperti orang yang terlahir dalam kondisi sempurna.

“Setiap sesuatu, memiliki kelebihan. Dan Tuhan-pun adil dalam memperlakukan hambaNya. Kuncinya adalah keyakinan yang kuat, karean itu tekad saya,” tuturnya sambil meniupkan malam ke atas permukaan kain yang telah digambar sebelumnya.(gus/krs)