Sumenep Pada Zaman Pendudukan Jepang Tahun 1942-1945 (Bagian 1)

Sumenep, maduracorner.com – Berkecamuknya perang dunia ke II, dengan jatuhnya Belanda ke tangan Nazi pada tahun 1940, membuat  Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan keadaan siaga keseluruh wilayah jajahannya, termasuk juga Madura. Mereka secara darurat menambah anggota meliternya dengan cara mengadakan milisi, stadwach, dll. Namun sayang apa yang mereka usahakan akhirnya sia-sia, karena sebagaian rakyat tidak tertarik dalam mengambil bagian.

Dilain hal, Pada juli 1941, pemerintah Hindia-Belanda telah  mengalihkan ekspor untuk Jepang ke Amerika Serikat dan Inggris. Juni 1941 negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal. Di pertengahan tahun yang sama, Pimpinan meliter Jepang akhirnya memutuskan untuk menyerang ketiga negara tersebut sekaligus, tujuannya tak lain agar sumber daya alam yang ada di kawasan Asia Tenggara bisa dimanfaatkan memenuhi  kebutuhan industri ataupun angkatan perang  milik Jepang.

Admiral Isoroku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mulai mengembangkan strategi perang yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua operasi besar.  Tanggal 7 Desember 1941, dibawah pimpinan Admiral Chuichi Nagumo, armada perang ini secara mendadak menyerang  basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbo, kepulauan Hawaii. Kemudian setelah penyerangan tersebut pada awal-awal bulan pertama tahun 1942, pasukan Jepang juga mulai menyerang dan mengambil alih Filipina, Thailand, Malaya, Singapura, Pulau Wake, Britania Baru, Kepulauan Gilbert,  Guam dan juga  Hindia-Belanda (Indonesia).

Dalam dokumen Armada Gabungan Angkatan Laut Jepang “Perintah Rahasia Nomor Satu” tertanggal 1 November 1941, tujuan awal kampanye Jepang dalam perang adalah untuk mengeluarkan kekuatan militer Inggris dan Amerika dari Hindia – Belanda dan Filipina, dan untuk membentuk kebijakan swasembada otonom dan kemandirian ekonomi. Di Hindia-Belanda, Pulau Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Pulau Sumatera sebagai sumber minyak utama.

———–

Pendudukan tentara Jepang di Hindia-Belanda, diawali dengan dikirimnya bantuan Jepang ke Pulau Sumatera yang bertujuan  untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan yang ada. Bulan Januari 1942, dimulai dari wilayah Tarakan (Kalimantan Timur), tentara Dai Nipoon mulai menguasai wilayah penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia, berturut-turut kemudian wilayah Balikpapan, Ambon,Kendari, Pontianak dapat dikuasai pada bulan yang sama. Pada bulan Februari 1942 Jepang berhasil menguasai Palembang.

Pada tanggal 5 Maret 1942 tentara Jepang juga  berhasil menguasai Batavia. Karena semakin terdesak serta tidak adanya adanya bantuan dari Amerika Serikat, akhirnya Pemerintah Hinda –  Belanda terpaksa harus menyerah tanpa syarat kepada Jepang melalui Perjanjian Kalijati di Subang, Jawa barat pada tanggal 9 Maret 1942. Perjanjian ini ditandatangani oleh Jenderal Teerporten (Panglima KNIL)  selaku wakil dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda  yaitu Mr A.W.L  Tjarda Van Stackenborg Stackhouwer dan Jenderal Immamura sebagai Pimpinan bala tentara Jepang di Indonesia.

———–

Selepas perjanjian tersebut, tepat tanggal 12 Maret 1942, seluruh pulau Madura telah dikuasai oleh bala tentara  Jepang. Kisah awal kedatangan pasukan-pasukan tentara Jepang ke Pulau garam tergambar dalam catatan-catatan para pejuang Sumenep yang dirangkum oleh Sulaiman dalam sebuah makalah pokok saresahan sehari tahun 1994 yang berisi tentang kisah perjuangan rakyat Sumenep pada perang kemerdekaan tahun 1942 – 1949. Diantaranya :

Sahwonoedin Djojoprajitno, yang pada saat itu berada di Pulau Kangean, menuliskan kisahnya sebagai berikut :

 …. Maka dengan segera secapat kilat, bergeraklah pasukan-pasukan tenno heika, bala tentara dai Nippon menuju ke selatan. Menghadapapi serangan bala tentara Jepang bagaikan menghadapi banjir dari utara, kegagahan bala tentara segera pudar, tidak terhenti, semangatnya patah, lemah lunglai tak berdaya. Pernyataan Jendral Ter Poerten : “ Liever Stande stervendan  knielende te lever”[1]  tidak berlaku akibat serangan Jepang ke Kalimantan. 3 orang Belanda Sabat menanti datangnya kapal-kapal Belanda … berusaha menyelamatkan diri. Dengan naik perahu layar langsung menuju Australia … Beberapa hari berlayar, mereka mampir ke Pulau Sapeken. Perahu itu dinahkodai oleh anak muda Amir dari Makassar … Terjadi perbantahan antara anak perahu dan 3 orang Belanda tersebut. Seorang diantara Belanda itu berusaha menujukkan gigi , bahwa Belanda adalah penguasa yang tidak boleh dibantah. Secepat kilat Amir bertindak. Dengan ketangkasannya, ia bergulan dan … Belanda itupun harus menyerahkan jiwanya diatas permainan ombak, hilang tak tentu dimana sumbernya … mereka tidak berkutik lagi, menjadi tawanan dalam perahu. (selanjutnya tawanan tersebut diserahkan kepada Jepang).

Begitu juga dengan Munawar Sarbini, dalam catatannya yang berjudul setitik embun, beliau berkisah tentang tidak adanya aktifitas perkumpulan guru semenjak tentara Jepang menguasai  Sumenep :

Di Sumenep, para pergerakan (pejuang) telah mengadakan perkumpulan-perkumpulan seperti, kumpulan agama, kumpulan kepala dan diskusi-diskusi dsb. Guru-guru mengadakan kumpulan dengan nama “Debating Club” (DC). Debating Club ini rapatnya diadakan tiap minggu bergiliran di rumah masing-masing anggota. Jika ditanyakan orang luar, “apakah tujuan DC tersebut?” jawabannya, “untuk meningkatkan  meningkatkan pengetahuan guru-guru dalam cara mengajar”. Tetapi sesungguhnya membicarakan politik.

Setelah Jepang ada di Sumenep, kegiatan-kegiatan kaum pergerakan tidak nampak. Apa yang diharapkan oleh rakyat bawahan seperti saya, hilang musnah. Harapan yang diangan-angan saya pada zaman Penjajahan Belanda, apabila Indonesia  dijajah Jepang , maka barang-barang akan murah. Tapi setelah jepang di Indonesia, barang bukan tambah murah, namun kenyataannya tambah mahal dan tambah kurang. Yang ada hanyalah kekejaman tentara Jepang.

[1] Lebih baik mati berdiri dari pada hidup bertekuk lutut

Sumber : SONGENNEP TEMPO DOELOE

By : Jiddan