Sumenep Pada Zaman Pendudukan Jepang Tahun 1942-1945 (Bagian 2)

 

Lembar ijazah sekolah rakyat negeri Sumenep ( Kokumin Gakko ) pada jaman pendudukan Jepang di Sumenep, dikeluarkan tanggal 13 maret 1945 ( Foto koleksi : Arsip Komunitas Songennep Tempo Doeloe )

 

Sumenep, maduracorner.com –

SISTEM  PEMERINTAHAN, PENDIDIKAN DAN SOSIAL PADA JAMAN PENDUDUKAN JEPANG

Lembar ijazah sekolah rakyat negeri Sumenep ( Kokumin Gakko ) pada jaman pendudukan Jepang di Sumenep, dikeluarkan tanggal 13 maret 1945 ( Foto koleksi : Arsip Komunitas Songennep Tempo Doeloe )

Di awal-awal kedatangannya,  sebagaimana di daerah lain di Indonesia, pemerintah Jepang banyak melakukan perubahan dalam bidang sosial, pendidikan bahkan dalam bidang pemerintahan. Dibidang pendidikan misalnya, banyak sekali yang dirubah, semilsal pelarangan buku-buku berbahasa Belanda dan lain-lain. Pada awal kedatangannya ke Indonesia, pemerintah meliter Jepang membekukan semua kegiatan pendidikan yang dianggap sangat rumit yang diadakan pada masa kolonial Belanda. Usaha tersebut sekaligus mengikis pengaruh belanda di Indonesia. Pada tahun 1942 jepang mengadakan pemeriksaan dan penyelidikan terhadap buku-buku berbahasa Belanda. Semua itu bermaksud untuk menghilangkan pengaruh barat dan meninggikan derajat bangsa Asia dibawah kekuasaan dan pimpinan jepang.

 

Sistem pendidikan yang pada masa kolonial dibagi atas dasar ras dan golongan, pada masa penjajahan jepang dihapus, masyarakat mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Tujuan utamanya bukan hanya menghilangkan droktinisasi pendidikan ala barat yang pernah dijalankan oleh pemerintah Kolonial selama berpuluh-puluh tahun, namun tujuan utama pemerintah jepang adalah memenangkan peperangan. Maksudnya dengan mendidik masyarakat Indonesia, mereka bisa memanfaatkannya untuk kepentingan tenaga kerja Jepang bukan untuk mencerdasakan masyarakat Indonesia. Di masa akhir pendudukannya , dengan landasan semangat “Hakko Icchiu”, yang menjadi landasan pokok utama pendidikan pada masa itu, mereka mengajak masyakat Indonesia untuk bekerjasama “memakmurkan Asia Raya”. Setiap hari para murid-murid di sekolah dari semua tingkatan diangkat sumpah setianya untuk kaisar Jepang.

 

Pada masa pendudukan Jepang terdapat tiga prinsip pokok kebijaksanaan dibidang pendidikan yaitu :

  1. Pendidikan ditata kembali atas dasar penyeragaman dan kesesamaan untuk seluruh kelompok etnis dan kelas social.
  2. Secara sistematis pengaruh pendidikan Belanda dihapus dari sekolah-sekolah, sedangkan unsure-unsur kebudayaan Indonesia dijadikan landasan utama.
  3. Semua lembaga pendidikan dijadikan alat untuk memasukan doktrin gagasan kemakmuran bersama Asia Tenggara dibawah pimpinan Jepang.

 

Perubahan istilah dan nama jenjang sekolah pada jaman Pendudukan Jepang, sebagai berikut :

  1. Jenjang sekolah dasar menggunakan istilah Sekolah Rakyat (SR) atau Kokumin Gakko
  2. Jenjang sekolah menengah pertama (SMP) atau Shot chu Gakko.
  3. Jenjang sekolah menengah tinggi (SMT) atau Koto Chu Gakko.
  4. Jenjang perguruan tinggi. Perguruan tinggi tersebut adalah :

a.    Sokolah tinggi kedokteran (Ika Dai Gakko) di Jakarta.

b.    Sekolah teknik tinggi (Kogyo Dai Gakko ) di Bandung

c.    Sekolah tinggi Pamong Praja (Kenkoku Gakuin)

d.    Sekolah tinggi Kedokteran Hewan di Bogor

 

Di sumenep, tidak semua jenjang-jenjang pendidikan itu ada. Di Sumenep hanya ada sekolah SR atau Kokumin Gakko dan Sekolah pelayaran. Sekolah SR (Kokumin Gakko)  lokasinya ada di Pangligur (sekarang ditempati oleh SMPN 1 Sumenep) dan di Pajagalan (sekarang SDN Pajagalan 1)  serta Sekolah pelayaran “Madura Seining Yosesyo  no Seito” (sekarang kantor dinas Pengairan Kab. Sumenep) dengan direktur sekolahnya bernama Yanakita.

 

Keberadaan sekolah-sekolah tersebut diperkuat oleh pernyataan Maknoen dalam makalah sehari yang disusun oleh sulaiman sebuah makalah pokok saresahan sehari tahun 1994 :

 

“ … Sekolah yang ada hanyalah sekolah pengairan dengan nama “Madura Seining Yosesyo  no Seito”. Di sekolah pelayaran ini kami diasramakan di Pabiyan menjadi satu dengan lokasi sekolah… Pendidikan yang diterapkan oleh Jepang cukup menyiksa jasmani dan rohani  karena kekejaman guru-guru Jepang menghukum dengan memukul yang semena-mena tidak mengenal peri kemanusiaan.”

 

Begitu juga dengan pernyataan Siwar Ronowidjojo :

 

… adapun nama direktur Sekolah adalah Yanakita. Setelah semua siswa masuk, direktur berbicara : “mulai sekarang semua siswa pulang masing-masing !”. Jadi para siswa bertanya-tanya ada apa, dan begitu keluar dari sekolah terdengar di radio,  bahwa bung karno memproklamirkan detik-detik proklamasi kemerdekaan 17-8-45, …

Sumber : SONGENNEP TEMPO DOELOE

By : Jiddan

Email Autoresponder indonesia