Tak Kunjung Ditutup, Hotel Front One Pamekasan Didemo

632 views

PAMEKASAN, MADURACORNER.COM- Kecewa akan ketidak tegasan kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Pamekasan yang belum menutup paksa Hotel Front One, puluhan massa yang mengatas namakan dirinya Laskar Merah Putih (LMP) dan Kobra, rabu 12 Desember 2018, menggelar aksi demonstrasi ke Kantor DPRD Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Dengan cara longmarch dari Araeal Monomen Arek Lancor Menuju Kantor DPRD Pamekasan, puluhan massa Laskar Merah Putih (LMP) ini berorasi secara bergantian.

Setibanya di halaman Kantor DPRD Pamekasan, salah seorang dari kelompok massa itu sempat adu argumen dengan pihak aparat keamanan dan pihak legeslatif lantaran pendemo minta masuk halaman kantor.

“Kami hanya ingin masuk halaman kantor DPRD untuk menyampaikan aspirasi kami terkait persoalan perijinan Hotel Fron One yang sudah ekspayet dan tidak diperbarui namun masih tetap beroprasi bukan untuk menyampaikan aspirasi secara anarkis. Kedatangan kami hanya ingin menagih janji Bupati Pamekasan, Badrut Tamam yang akan menutup paksa Hotel tersebut untuk tidak beroperasi yang nyatanya hingga saat ini janji itu hingga kini tidak dilakukannya,” kata Samhari, Korlap Aksi Demo LMP dihadapan perugas keamanan dan Anggota DPRD Pamekasan,rabu (12/12).

Ketegangan adu argumen ke tiga belah pihak akhirnya mereda setelah sebagian dari kelompoknya di ijinkan masuk untuk melakukan audensi dengan pihak legeslatif yang juga melibatkan sejumlah Organisai Perangkat Daerah (OPD) terkait, untuk membahas persoalan yang menjadi tuntutannya.

Audensi sejumlah perwakilan massa LMP Pamekasan dengan pihak Legeslatif dan OPD terkait, ternyata hanya berlangsung sesaat. Perwakilan LMP, keluar ruangan sebelum pembahasan persoalan selesai.

Pihak LMP menilai, apa yang disampaikan oleh pihak OPD terkait, tentang persolan Hotel Front One itu tidak sama dengan hasil audensi sebelumnya dan dinyatakan hanya sebuah pembohongan pulik.

“Percuma hal ini dibahas kembali karena kita sebelumnya sudah tiga kali melakukan audensi dengan pihak UPT dan DLH mengenai hal perijinan hotel sudah dinyatakan ekspayet, tapi kenapa kok tiba-tiba semua itu berubah dan segala perijinab sudah ada lengkap,” kata Zainal, salah satu anggota LMP diruang pertemuan DPRD Pamekasan.

Tak puas aksinya di kantor DPRD Pamekasan, Massa LMP kemudian bergerak menuju Hotel Frint One. Setibanya di Hotel Front One, dengan berorasi secara bergantian mereka mendesak agar pemilik Hotel Front One menemuinya untuk melakukan penutupan hotel sebelum administrasi perijinannya yang dinyatakan sudah tidak berlaku itu di selesaikan perpanjangan izinnya.

“Kami minta agar pihak hotel front one menutup hotel untuk tidak beroperasi lagi sebelum hal perijinan sudah diperbarui masa aktifnya,” terang AGUS, salah seorang Orator Aksi Demo LMP yang menuntut Hotel Fron One ditutup.

Setelah ditemui pihak Jeneral Manager Hotel, Mereka para pendemo masih ngotot meminta hotel agar ditutup untuk tidak beroperasi sementara sebelum hal perijinannya diselesaikan. Kendati demikian, permintaan massa masih belum bisa dipenuhi oleh General Manager Hotel Front One, Elfindra.

Dengan alasan Administrasi Menejerial, Elfindra, General Manager Hotel Front One mengatakan hanya bersedia menutup Hotel kalau penutupan itu dilakukan oleh pihk OPD terkait, yakni Satpol PP.

“Kami tidak bisa melakukan penutupan Hotel karena harus mengaju kepada prosedural menejemen, semua kami serahkan jepada pihak yang berwenang yakni pihak Satpol PP,” terang Elfindra, General Manager Hotel Front One.

Tak puas dengan pernyataan General Manager Hotel Front One itulah, massa LMP memilih bertahan di hotel setempat sebelum tuntutannya bisa dipenuhi. Pasalnya, jika tuntutannya yang mengacu kepada prosedural Perda dan Perbup itu tidak dipenuhi, maka pihaknya akan menutup paksa hotel dan akan melakukan aksi kembali secara besar besaran. (*)

Email Autoresponder indonesia