Tak Terima Ditegur, Keluarga Pasien Pukul Satpam RSUD Syamrabu Bangkalan

Kasus pemukulan Satpam RSUD Syamrabu Bangkalan berakhir damai setelah pelaku meminta maaf. (FOTO: Riyan Mahesa)

BANGKALAN, MADURACORNER.COM- M Toha (45), Satpam RSUD Syamrabu Bangkalan, Madura, Jawa Timur, menjadi korban kekerasan yang dilakukan keluarga pasien. Insiden pemukulan ini, hanya dipicu masalah sepele. Pelaku tidak terima ketika ditegur oleh korban.

Kasus penganiayaa yang terekam CCTV ini terjadi pada Senin, 8 April 2019, pukul 09.50 WIB. Dalam rekaman, korban terlihat memberi saran kepada keluarga pasien bernama Musyfikon (40) warga Desa Katol Timur, Kecamatan Kokop, supaya tidak berdiam diri di sekitar pintu UGD .

Rupanya, pelaku merasa tersinggung dan tersulut emosi. Pelaku yang sedang duduk di depan sebelah kiri pintu UGD, langsung berdiri dan melayangkan pukulan sebanyak dua kali ke arah kepala korban, hingga topi yang dipakai korban terjatuh ke lantai.

“Aturannya, keluarga pasien memang tidak boleh berada di sekitar pintu UGD, agar tidak mengganggu pasien yang hendak masuk, dan pasien yang mau keluar,” ucap Wadir RSUD Syamrabu Bangkalan, dr Farhat Surya Ningrat, Rabu (10/4/2019).

Dokter spesialis kulit dan kelamin ini, menyerahkan sepenuhnya proses hukum kasus kekerasan yang menimpa Satpam RSUD Syamrabu kepada Kodim 0829/Bangkalan sebagai penanggung jawab keamanan rumah sakit yang telah tertuang dalam MoU.

“Atas nama pribadi antara korban dan pelaku sudah saling memaafkan. Kalau secara kelembagaan kami serahkan ke Kodim 0829/Bangkalan, karena laporan sudah masuk ke pihak berwajib,” imbuhnya.

Farhat menegaskan, siapapun yang masuk ke lingkungan RSUD Syamrabu, harus saling menghargai dan menghormari peraturan yang ada. Apabila, terdapat pelayanan yang kurang memuaskan, ia memohon agar ditanyakan baik-baik dimana letak kekeliruannya.

“Kami selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada semua pasien,” terangnya.

Kepala Keamanan RSUD Syamrabu Bangkalan, Sertu Budiono menambahkan, kasus kekerasan ini diselesaikan secara kekeluargaan melalui proses mediasi dengan menghadirkan korban dan pelaku. Ia berharap tidak ada lagi kasus serupa di kemudian hari.

“Laporan ke kepolisian kami cabut, karena pelaku sudah beritikad baik dengan mengakui kesalahannya, dan bersedia meminta maaf kepada korban,” ucapnya.

Menurutnya, Kodim 0829/Bangkalan tidak hanya bertanggung jawab di bidang keamanan saja. Namun, juga bertugas memberikan sosialisasi terkait prosedur pelayanan di rumah sakit. Tujuannya, untuk mencegah ketidakpahaman masyarakat yang dapat menimbulkan tindakan kekerasan.

“Saya selaku pembina sekuriti RSUD Syamrabu menginginkan hal yang terbaik. Tidak ada lagi sikap kolot, supaya tidak terjadi lagi kasus pemukulan,” paparnya.

Sementara itu, Musyfikon (40) menyadari dan menyesali bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap Satpam RSUD Syamrabu merupakan perbuatan yang salah. Semestinya kata dia, hal itu tidak perlu terjadi jika mempu mengontrol emosi.

“Saya khilaf dan memohon maaf. Saat itu benar-benar kalut, karena orangtua saya sedang dirawat di UGD,” jelasnya usai proses mediasi di RSUD Syamrabu Bangkalan. (*)

Penulis: Riyan Mahesa

Editor: Ahmad