Tanah Hanya Diukur di Atas Meja

1246 views
1000938_381309601968726_46397955_n
Bangkalan, maduracorner.com – Menurut penelusuran data pertanahan bermasalah di Kelurahan Kraton, terdapat nama Djufriadi, seorang petugas ukur BPN Bangkalan, yang selalu berada di dalamnya. Nyaris seluruh tanah dan sertifikat yang kini diketahui terbit dengan data palsu, petugas ukurnya adalah Djufriadi, yang tinggal di Perumnas Kamal tersebut.
     Termasuk petugas ukur tanah seluas 10.791 meter persegi yang diajukan Dasino. Dalam berkas surat ukur nomor 9273/2015 yang pengukurannya dilakukan pada 15 Juni 2015, petugas ukurnya adalah Djufriadi SH. ’’Sepertinya tidak pernah dilakukan pengukuran di lapangan. Kalau memang ada pengukuran, pasti saya sudah mengetahui sejak ada pengukuran awal,’’ kata Sadi, pemilik tanah, yang saat ini masih memegang Kohir Nomor 511, yang diduga dipalsu oleh Dasino dan kroninya.
     Kemudian, pada berkas peta bidang tanah nomor 1564/2011 yang saat ini diketahui kalau itu adalah Kantor Kelurahan Kraton Jalan Jokotole III nomor 10, petugas ukurnya juga bernama Djufriadi SH. Saat itu, diyakini kalau Djufriadi tidak pernah melakukan pengukuran di lapangan. Tapi, pengukuran dilakukan di atas meja di dalam Kantor BPN Bangkalan.
    Indikasinya, pendaftar pengukuran Kantor Kelurahan Kraton itu, didaftarkan atas nama Slamet, warga Jalan Jokotole V nomor 51. Sedangkan Slamet sendiri, saat pengukuran dilakukan pada 11 Agustus 2011, tidak merasa pernah mengikuti proses pengukuran maupun menandatangani hasil pengukuran. ’’Malah sata tidak pernah mendaftarkan untuk mengukur Kantor Kelurahan Kraton, karena saya memang tidak pernah memiliki tanah yang dijadikan balai desa itu,’’ tegas Slamet.
      Data lain menyebutkan, dalam proses pengkuran empat bidang tanah seluas total 3.340 di Persil 20 D VI Kelurahan Kraton, yang kini diketahui dilakukan dengan akta jual beli palsu, dan dokumen-dokumen palsu, pengukurannya juga dilakukan oleh petugas ukur BPN Bangkalan bernama Djufriadi SH. Hal itu diketahui dari berkas peta bidang tanah noor 2510/2012 yang tercantum nama Iskandar Zulkarnaen sebagai pendaftar pengikuran tanah tersebut.  
     ’’Saya tidak pernah mendaftarkan pengukuran empat bidang tanah di Kelurahan Kraton. Saya tidak pernah mengetahui dan ikut dalam pengukuran. Bahkan, saya tidak pernah membeli atau memiliki tanah secuilpun di Kelurahan Kraton,’’ tegas Iskandar, yang mengaku sejak 1974 tinggal di Jalan Tengger I nomor 27, Mojokerto. Pada 21 September 212, atau saat pengukuran empat bidang tanah tersebut, dia tidak pernah berada di Bangkalan dan menyaksikan pengukuran oleh petugas BPN Bangkalan.
     Termasuk, sambung dia, saat dilakukan pemecahan 19 sertifikat di atas tanah yang disebut-sebut sebagai miliknya ’’Nama saya ini hanya dicatut oleh lurah dan notaris Agus,’’ tegas Iskandar. Dan, tandasnya, dia juga tak pernah memberi kuasa kepada siapaoun untuk mengurus empat bidang tanah di Persil 20 D VI tersebut, karena memang tidak pernah memilikinya. (ris)
Penulis : Risang Bima Wijaya
By : Jiddan
Email Autoresponder indonesia