Tempat Tinggal Manusia Pasir

814 views

Anak-anak sudah biasa tidur di atasnya. By : AN – Wahyu Alam

Pasir

Maduracorner.com.Bangkalan – Jika membayangkan, mungkin kita akan terbayang sebuah desa dengan hamparan pasir yang luas. Menarik, kan! Ternyata bukan.

Saat aku dan teman-teman diajak ke desa pasir yang sebenarnya sebuah desa di Desa Lenggun Bara�, Kecamatan Batang-batang, Sumenep. Rumah-rumahnya tidak berbeda dari kebanyakan desa di Madura. Terbuat dari tembok dan berjejer. Beberapa perumahan penduduk sudah merayap. Ramai.

Inilah butiran pasir yang begitu halus
Inilah butiran pasir yang begitu halus
Aku baru terkaget ketika diajak masuk ke salah satu kamar �rumah bertembok keramik itu. Ada tumpukan pasir yang bukan pada tempatnya. Pasir itu dituangkan begitu saja di lantai samping kasur. Tanganku tak kuasa untuk menyentuk pasir berwarna kuning kecokelatan itu. Halus. Seharus tepung. Aku pikir ini diayak terlebih dahulu, ternyata ketika tanya kepada yang punya rumah, pasir ini tidak dilakukan proses apapun, langsung dari tepi pantai Lombang. Pasirnya halus karena mereka mengambil di pantai yang menjorok ke tengah laut. Menarik dan aku tergeleng-geleng. Heran.

Semakin heran, anak-anak sudah biasa tidur di atasnya, bahkan di atas �kasur� pasir ini dilengkapi dengan bantal dan guling layaknya kasur pada umumnya. Mereka benar-benar menggunakan pasir sebagai alas untuk tidur. Bahkan hampir semua penduduknya dilahirkan di pasir itu. Jadi mereka langsung menyentuh pasir. Ini adalah tradisi turun temurun. Belum ada penelitian resmi kapan mereka mulai menggunakan ini.

BciwYsgCEAAKwSJ

Aku penasaran berapa kali pasir ini diganti dan berapa lama harus diganti. Ternyata cukup lama, sekitar 4-5 tahun sekali baru diganti. Ngga ada aturan khusus kapan pasir itu harus diganti.

Penasaran, aku mencoba tidur di atasnya. Rasanya dingin, seperti berada di lantai keramik, tapi tidak sedingin keramik. Butiran pasir yang halus membuatnya tidak mudah menempel di kulit atau kain. Jadi begitu diusap pasirnya pun langsung rontok dan tidak berbekas di kulit.

Memang, masih ada satu kamar yang tidak ada kasur pasirnya, tapi ini jelas sudah membuatku terheran-heran. Mereka tidur di atas pasir. Menyatu dengan alam. Cocok sekali dengan geografis pulau garam yang dikelilingi oleh laut. Madura memang punya cara tersendiri untuk menghargai warisan budaya leluhurnya.

Ngga percaya? Silahkan datang saja ke Sumenep, tepatnya di kecamatan Batang-batang!

Sumber : Wahyu Alam.com

Email Autoresponder indonesia