Ter-ater Berbagi Rasa Masyarakat Madura

1276 views

Bangkalan, Maduracorner.com – Ter-ater, merupakan bagian tradisi masyarakat Madura yang mengandung  makna membagi rasa makanan (nasi atau kue)  untuk tetangga, kerabat atau pihak-pihak yang pantas di beri ter-ater.

Ter-ater adalah bentuk hantaran yang dilakukan oleh masyarakat Madura pada saat-saat tertentu. Secara rutin ter-ater biasanya dilakukan setiap Kamis sore (malam Jum’at manis) yang ditujukan kepada kiyai atau guru ngaji yang lazim disebut arebbha. Ter-ater juga bisa dilakukan setiap keluarga ketika mempunyai hajatan (perkawinan, kemeriahan dan selamatan) yang dibarikan kepada pihak-pihak tertentu (kiyai, sesepuh dsb)  setelah hajatan usai dilaksanakan.

Ter-ater yang dilakukan secara serentak oleh masyarakat, yaitu ketika Hari Raya Idul Fitri dalam bentuk masakan dan seminggu setelahnya dalam bentuk ketupat. Namun juga pada waktu sebelumnya, menjelang ramadhan seperti pada sya’banan (nisfu sya’ban), hari kedua puluh satu puasa ramadhan (nuzulul qur’an), ter-ater menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Madura.

Berbagi Rasa

Pada prinsipnya tradisi ter-ater mempunyai tujuan silaaturrahim antar tetatangga, sanak famili dan kerabat keluarga dengan media berbagai rasa makanan, meski kerap yang terjadi menu masakan yang dihantar hampir tidak ada perbedaan. Uniknya meski seseorang  (satu rumah tangga) mendapat sekian hantaran, namun tidak akan  dihantar kepada pihak lain. Karena apabila hasil hantaran kemudian dihantarkan kepada orang lain, akan menjadi celaan dan mendapat sangsi sosial dari lingkungannya, yaitu akan menjadi san-rasan atau erasani tidak baik karena tidak menghargai hasil ter-ater.

Bagi masyarakat tradisional Madura (pedesaan maupun perkotaan) terater merupakan “kewajiban” yang harus dijalankan, karena menyangkut rasa malo atau todus. Dan ter-ater tidak dihitung seberapa banyak atau seberapa enak masakan yang dihantar. Meski demikian ter-ater diusahakan dengan menampilkan sesuatu yang bernilai dibanding suatu masakan makanan yang disantap setiap harinya.

Dua hal penting bagi masyarakat Madura dalam berbagi rasa masakan. Pertama kepada tamu. Tamu diberi nilai tinggi dalam hal penyediaan perhargaan makanan. Satu kebiasaan tuan rumah, memberi hidangan kepada tamu merupakan hal prinsip sebagai salah satu bentuk nilai kehidupan sosialnya. Sebagaimana terjadinya carok di Madura, tiga alasan mendasar yang menyebabkan terganggunya seseorang, yaitu:  harga diri, wanita dan air (baca : Kilasan kenangan Hitam “Carok”).

Jadi apabila seseorang menghidangkan makanan kemudian oleh tamu tidak dimakannya maka sama artinya mengganggu harga diri, karena ketika seseorang menghidangkan makanan untuk tamu, berarti dia (mereka) telah mengorbankan apa yang mereka miliki (menu makanan – meski hanya memiliki seekor ayam) demi sang tamu. Yang kedua, yaitu ter-ater yang dapat dikategorikan sebagai bentuk pristise keluarga dalam memberikan nilai terhadap orang lain.

Menu yang disajikan dalam ter-ater utamanya berupa nasi dengan menu lauk pauk daging sapi/kambing atau ayam, namun tidak menutup kemungkinan menu yang lainpun tetap menjadi menu hantaran, tergantung kemampuan yang mau melakukan ter-ater.

Tmasyarakat Madura terjadi secara  Dan lebih jauh dari itu,  ter-ater menrupakan manifestasi dari rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, yang telah banyak memberikan rizki kepada diri maupun keluarganya, khususnya ketika memasuki bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, sehingga sangat dirasakan manfaatnya dalam berbagi rasa makanan antar sesama, khususnya kepada orang-orang yang pantas menerimanya.

Terjadinya Perubahan Paradigma

Sesuatu yang bermanfaat kerap tidak diimbangi dengan kontinyuitas. Banyak penyebab terjadinya perubahan sosial masyarakat, khususnya masyarakat Madura yang ternyata telah benyak kehilangan nilai-nilai dalam kearifan sebagaimana yang terjadi pada tradisi ter-ater.

Pragmatisme nampaknya menjadi sumbu utama terjadinya perubahan paradigma ter-ater. Alasan klasik yang kerap menjadi landasan pada masyarakat modern yaitu kepraktisan dalam segala tindakan adalah hal utama. Termasuk ter-ater, dalam perubahannya menu ter-ater yang dulu hasil masakan proses sendiri, telah berubah menjadi pesanan pada catering kemudian dihantarkan dengan wadah dos atau plastik yang banyak dijual di toko-toko, khususnya bagi masyarakat perkotaan.

Nah disinilah persoalannya. Kalau jaman dulu masyarakat Madura dalam memproses hantaran dari masakan sendiri, kemudian dihantar dengan piring yang dilandasi daun pisang dipotong membundar, dihantar dengan talam atau nampan, lalu ditutupi dengan sejenis tampak rajutan benang. Indah dan alami.

Ironisnya, justru sebagaian besar masyarakat Madura perkotaan sudah tidak kenal yang namanya ter-ater. Akulturasi budaya tampaknya membebani mereka dalam melakukan ter-ater. Keengganan (lantaran  pragmatisme) ibu rumah tangga membagi rasa makanan kepada tetangga, sanak keluarga dan kerabatnya telah demikian menguat, sehingga hari-hari menjelang ramadhan,  maupun menjelang dan saat lebaran, terasa biasa-biasa, sepi dan tidak ada aktifitas sosial antar tetangga.

Namun demikian, meski tidak sekuat pada jaman dulu, masyarakat Madura tradisional di pedesaan masih mencoba dan berusaha tradisi ter-ater ini untuk menjadi bagian dari proses kehidupan sosial mereka. Karena apapun alasannya, peristiwa lebaran merupakan peristiwa yang diagungkan, peristiwa yang menyangkut urusan keagamaan dan kebudayaan.

Penulis : Syaf Anton
Tulisan diatas menyalin dari : www.lontarmadura.com
By : Jiddan
Email Autoresponder indonesia