Terkait Polemik Wisata Maneron, Tokoh Agama Beri Masukan

1047 views

Bangkalan, Maduracorner.com, Konflik dibukanya wisata pantai tengket Desa Maneron, Kecamatan Sepulu hingga kini terus bergulir. Pro dan kontra antara pihak pengelola dengan pihak kepala desa Maneron dan sejumlah masyarakat setempat belum juga mendapatkan titik temu.

Ra Bir Aly, tokoh agama ini menilai perlu mengambil jalan tengah dalam konflik ini demi kemajuan bersama kedepan.

“Perlu saya rumuskan duduk persoalannya dan dapat saya simpulkan untuk mengambil jalan tengah demi kebaikan bersama dan demi kemajuan Kabupaten Bangkalan kedepannya,” ungkap Ra Bir Aly. Kamis (9/7/2020).

Pria yang juga merupakan putra KH. Kholilurrahman ini mengaku  merestui dibukanya kawasan wisata pantai Maneron tersebut, dengan beberapa catatan.

Pertama, keberadaan petilasan di sekitar kawasan wisata, yang selama ini dikeramatkan oleh warga setempat, maka pengelola kawasan wisata  harus menjaga kesakralan areal petilasan tersebut.

Kedua, pengelola diminta membangun areal petilasan dan membuat sekat pembatas antara area pantai dan petilasan.

Ketiga, Ada waktu khusus untuk merawat dan menjaga petilasan dengan melakukan ritual keagamaan, sesuai ajaran dan tradisi dalam islam. Keempat, Ada kontribusi positif dan perhatian khusus ke pondok pesantren yang terletak di dekat pantai.

Kelima, Pembukaan pantai tengket harus memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat sekitar.

Keenam Pengunjung Harus sesuai norma agama dan menjaga asas kesopanan mulai dari penampilan, perbuatan maupun ucapan.

Dan ketujuh, memberikan batas waktu jam buka dan jam tutup untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.

Sementara itu, menyikapi pernyataan Ra Bir Aly, Ketua komisi D DPRD Bangkalan, Nur Hasan mengatakan. Sejauh ini pihak kepala desa setempat belum menyepakati keberadaan kawasan wisata tersebut. Karenanya  perlu duduk bersama antara pihak pengelola, dan kepala desa untuk menyepakati hal-hal terkait antara kedua belah pihak.

“Belum ada hasil, sebab pihak kades belum sepakat. Sehingga rekomendasi dari berbagai pihak tidak bisa menjadi sebuah kesimpulan,” ujarnya.

Politis Partai Persatuan Pembangunan itu juga menuturkan, yang pasti pihak Komisi D sepakat dengan usulan Ra Bir Aly, sebagai ahli waris dari pemegang historikal petilasan.

“Jika mau dikembangkan nama wisata religi, kemudian jika ada orang jualan dipinggir pantai dan melihat panorama alam sekitar pantai itu hanya faktor pendukung saja,” tuturnya.

Namun, kata dia, yang tidak kalah pentingnya semua instansi yang hadir, Muspika Kecamatan Sepeluh serta pemilik kawasan hutan atau asper Bangkalan dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setuju.

“Maka dari itu, untuk dikembangkannya sebagai kawasan wisata untuk meningkatkan keberlangsungan tarap hidup ekonomi rakyat,” pungkasnya. (Ris).

Email Autoresponder indonesia