TGB Yakini Madura Mampu Mengembangkan Destinasi Wisata Halal

Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi memaparkan potensi distinasi wisata halal dalam seminar yang diselenggarakan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM). (FOTO: Riyan Mahesa)

BANGKALAN, MADURACORNER.COM- Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM), menggelar acara Annual Conference on Islamic Economic and Law 2018 Seminar Nasional dan Call for Paper, Kamis (8/11/2018).

Seminar bertajuk ‘Modernisasi Pengembangan Pariwisata Halal Melalui Pendekatan Multidisipliner’ ini, menghadirkan Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) dan Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur, Dery Rossianto.

TGB menilai Pulau Madura sangat berpotensi mengembangkan wisata halal. Sebab, destinasi wisata halal menjadi pilihan alternatif bagi wisatawan. Apalagi antara masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) dan masyarakat Madura ada kesamaan karakter.

“Kalau NTB bisa mengembangkan wisata halal, Madura juga pasti bisa,” ucapnya.

Mantan Gubernur NTB tersebut menjelaskan, brand wisata halal mampu memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap jumlah wisatan yang berkunjung ke NTB. Bahkan, setiap tahunnya kunjungan wisatawan selalu mengalami peningkatan.

“Tahun 2015 jumlah wisatawan yang datang ke NTB berjumlah 400 ribu, dan akhir tahun 2017 jumlahnya meningkat sekitar 3.5 juta. Hal itu, tidak lepas dari brand wisata halal,” ungkapnya.

Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur Dery Rossianto menambahkan, pengembangan wisata halal di Madura tentunya membutuhkan kesamaan pandangan seluruh stake holder.

“Bupati, DPR dan masyarakat Madura harus satu pemikiran terkait wisata halal itu,” paparnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Keislaman UTM Sofiyun Nahidloh mengaku, sudah membuat naskah akademik tentang wisata halal sebagai pedoman penyelenggaraan wisata halal di Madura.

“UTM, khususnya Fakultas Keislaman ingin terus berkontribusi kepada masyarakat Madura,” tuturnya.

Sofi mengungkapkan, tahun 2017 sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar kedua setelah sektor migas di Indonesia.Bali, Aceh, dan NTB merupakan contoh daerah yang terkenal dengan destinasi wisatanya.

“Untuk memikat para wisatawan memang membutuhkan inovasi dalam industri pariwisata,” tandasnya. (*)

Penulis: Riyan Mahesa

Editor: Ahmad