Tukang Becak, Mendadak Jadi Tuan Takur

2436 views
sumadi-becak1
Bangkalan, maduracorner.com – ADALAH Dasino, yang ber KTP Jalan Pemuda Kaffa. Dia dikenal sebagai seorang tukang becak. Saat ini, becaknya sudah ditinggalkan, sejak 2013, Dasino sibuk menjadi penunjuk jalan di kawasan rawa di Kelurahan Kraton. Dasino, yang juga warga pendatang itu, mengenal daerah itu, karena sebelumnya selalu mengambil daun rumbia, dibuat atap, dan dijual. Becaknya pun dikandangkan dan dibiarkan berkarat.
     Dasino, tiba-tiba menjadi seorang miliuner. Namanya, tiba-tiba tercantum sebagai pemilik tanah dengan luas berhektare-hektare di Kelurahan Kraton. Tentu saja tak ada yang percaya, Dasino di tahun 2015 ini bisa membeli tanah seluas ribuan meter persegi. Sementara rumah tinggalnya sendiri masih jauh dari reot.
      Itu belum seberapa, sebelumnya, Dasino yang diketahui buta huruf ini, pernah menjual tanah seluas 8.780 M2 pada Persil 20 Klas VI, kepada seorang bernama Syaiful, warga Jl K Lemah Duwur, yang akta jual belinya dibuat di hadapan notaris Agus. Namun, kabarnya, akta jual beli tersebut dibatalkan, karena ada penawar yang lebih tinggi, yakni seorang mantan TKW Malaysia, yang kini menjadi juragan tanah di Kelurahan Kraton.
      Tak hanya Dasino, seorang tukang kayu bernama Rokib Samlawi, juga tiba-tiba menjadi tuan takur dan memiliki puluhan ribu meter persegi tanah di Kidul Dalam, Kelurahan Kraton. Yang berbatasan dengan Perumahan Halim dan Griya Utama.
      Lalu, ada seorang pensiunan Kantor Dinas PU Mojokerto bernama Iskandar Zulkarnaen, warga Jalan Tengger I nomor 27 Mojokerto, yang tiba-tiba menjadi pemilih tanah seluas 3.340 meter persegi, di koher 609 persil 20 d VI di Kelurahan Kraton, yang kini sudah dipecah dan dijual menjadi 19 sertifikat. Belakangan, Iskandar Zulkarnaen mengatahui kalau namanya dicatut dan mendatangi Kantor Notaris Agus Kurniawan, karena merasa tidak pernah memiliki tanah di Bangkalan. Apalagi menandatangani 19 akta jual beli. Namun, notaris di Perumda itu tetap memprosesnya.
     Iskandar Zulkarnaen juga akhirnya mengatahui kalau ada surat kuasa palsu dari dia kepada Evy Aisya, Lurah Kraton untuk mengurus sertifikat, memecah dan menjual tanah yang letaknya di pinggir sungai tersebut. ’’Sejak tahun 1974 sya tinggal di Mojokerto. Seumur hidup, saya tidak pernah punya tanah atau membeli tanah di situ. Tandatangan di surat kuasa atau akta jual beli itu palsu. Itu buka tandatangan saya,’’ tegas Iskandar, setelah ditunjukkan kwitansi pembelian tahun 1995, bahwa dia membeli tanah kepada Raden Singodali. Kwintansi jual beli itu palsu, dan sertifikat atas nama Iskandar Sukarno yang jadi dasar pemecahan 19 sertifikat di koher 609 persil 20 d VI di Kelurahan Kraton, semuanya adalah palsu.
      Karena itulah, Iskandar kemudian melayangkan surat ke BPN Bangkalan, agar pemalsuan dokumen yang menyebutkan dirinya sebagai pemilik dan penjual tanah itu diluruskan. Namun, lagi-lagi BPN Bangkalan yang dikepalai Winarto menganggap laporan itu angin lalu, karena dugaan adanya hubungan khusus antara Winarto dengan mantan Lurah Kraton, Evy Aisya.
     Iskandar juga mengaku sudah menemui Agus Kurniawan, notaris di Perumda Bangkalan pada Februari 2013, meminta agar semua yang ada tandatangannya di akta jual beli dibatalkan. Karena di tidak pernah memiliki tanah di Kelurahan Kraton. ’’Tapi ternyata oleh Pak Agus tidak dicabut dan diteruskan. Malah dia meminta bagian kavling kepada Bu Evy. Katanya, yang di akta jual beli itu bukan Iskandar saya, tetapi Iskandar semarang. Tapi alamat dan foto copy KTP nya punya saya semua, kan nggak bener itu,’’ sergah Iskandar.(tim)
Penulis : Risang Bima Wijaya
By : Jiddan
Email Autoresponder indonesia