Upacara Ngekka’ Sangger

835 views

Bangkalan,Maduracorner.com – Pagi hari rombongan pengantin pria diiringi bunyi-bunyian kesenian hadrah dan saronen menuju ke rumah mempelai wanita untuk melaksanakan upacara ngekka’sangger. Di Madura orkes saronen dikaitkan dengan sapi (pada waktu karapan sapid an untuk pertandingan kecantikan sapi betina), dengan kuda (untuk upacara ritual di makam keramat atau untuk pesta perkawinan), (Helene Bouvier, 2002:56). Di belakangnya beriringan para remaja serta orang dewasa membawa barang-barang yang disebut bingkisan (barang bawaan pihak laki-laki) penganten pria dengan gagah menaiki kuda hias (jaran serek) busana pengantin yang dipakai masih belum lengkap. Iring-iringngan membawa beberapa macam bingkisan berupa:

  • Barisan pertama atau panyangge’, berupa sepasang ayam dari kayu yang melambangkan tekad pengatin pria yang ulet dalam menempuh kehidupan.
  • Barisan kedua membawa dulban, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dulban adalah sejenis roti kemudian di atas roti tersebut ditancapkan bendera berupa uang kertas. Uang kertas tersebut bias bermacam-macam nominalnya semakin besar angka nominal uangnya maka semakin tinggi pula status sosial dari pihak pengantin pria. Hal tersebut juga melambangkan tekad pengantin pria memberikan kesejahteraan material dalam menempuh kehidupan bersama secara lahir batin.
  • Barisan ketiga, pembawa bunga sekar mayang kelapa melambangkan kehidupan yang selalu berlimpah rezeki.
  • Barisan empat, pembawa sirih dan pinang dengan lengkap e. Barisan kelima, pembawa pangonong melambangkan kesanggupan dan keuletan kita sebagai petani dalam mengolah pertanian dan perkebunan yang makmur.
  • Barisan keenam, pembawa judang berupa sebuah peti yang berisi keperluan rumah tangga.
  • Barisan ketujuh, pembawa aneka macam kue. Pada tahapan ini disebut juga babbarang yaitu mengantarkan bahan-bahan yang diperlukan sebagai jamuan untuk orang-orang yang datang pada acara akhir yaitu pangantan jajar. Jenis barang yang dibawa adalah berupa kue dan jenis lauk

Dudul, bajik, tettel bahan berupa palotan, nyeor, gula merah. Khusus tettel tidak memerlukan gula. Palotan memiliki spesifikasi melekat atau perekat. Nyeor yang diambil santannya biasaya yang sudah tua, orang memiliki sifat ketuaan seperti nyeor tadi diharapkan bersifat bijaksana. Gula merah dimaksudkan memiliki keberanian menghadapi hidup, cobaan dan tantangan serta memiliki masa depan yang manis dalam artian cerah. Dudul yang bertekstur halus dilambangkan dengan wanita sedang bajik yang teksturnya kasar dilambangkan dengan laki laki, dan tettel yang hanya berwarna putih melambangkan harta yang bersih halal. Dudul dan bajik pasangan jajan yang selalu ada, ini dimaksukan pasangan ini selalu ada bersama, akur, tidak bertengkar, lengket dan bekerja sama. Dengan adanya tettel mereka diharapkan mencari atau mendapatkan harta dengan cara yang halal dan baik.

Makanan yang disebut dengan jajan bastaan (biasanya disebut dengan jajan bastaan racek petto’atau terdiri dari tujuh macam kue yang dilumuri dengan gula dan nama kue tersebut disesuaikan dengan bentuknya. Bahan dari kue tersebut adalah palotan atau ketan dan tellor atau telur. Jajan bastaan 7 macam dimaksudkan 7 macam sifat manusia yang harus dijaga agar selamat di dunia dan akhirat. Ketujuh sifat itu adalah; sombong, tamak, kikir, takabbur, suka bergunjing, suka mengganggu, malas. Kue dan lauk yang dibawa menuju rumah mempelai wanita ini diletakkan dalam satu wadah yang ditempatkan dalam satu tandhu yang diusung oleh empat orang laki-laki dengan diiringi oleh tabuan saronen, gendhung, dan gempa’.

Pada serambi depan rumah mempelai wanita disediakan sebuah tugas untuk mempelai pria yaitu ngekka’sangger. Ngekka’ berarti merajut, menyusun bilah-bilah bambu menjadi satu sehingga bisa dipakai untuk alas kasur di ranjang yang disebut sangger. Adapun arti dari tugas ituadalah:

  • Pernikahan bagi masyarakat di sana bukanlah merupakan pertautan kedua mempelai, melainkan masuknya pengantin pria dalam keluarga besar sang istri. Gambaran dalam sangger yang terbuat dari bilahbilah bambu yang tersusun rapi dalam satu ikatan dan tahan dalam menghadapi tantangan hidup.
  • Pernikahan itu bukan hanya pertautan dua manusia laki-laki dan perempuan tapi dalam arti yang lebih luas lagi yaitu pertautan dua keluarga besar kedua mempelai sehingga menjadi satu kesatuan ikatan kekerabatan
  • Mendidik atau sebagai pembelajaran bagi pengantin pria agar selalu arif, tertib, dan memegang sopan santun serta sabar seperti halnya rangkaian sangger.

Pangantan Arak

Proses ini bertujuan untuk memberitahukan pada seluruh warga bahwa mereka telah menjadi suami istri yang sah. Proses ini telah melibatkan banyak orang karena pangantan arak ini pelaksanaannya seperti karnaval. Urutan dari pangantan arak ini sebagai berikut:

  • Barisan pertama, terdiri dari para lelaki yang memegang tombak terdiri dari 10-30 orang. Barisan ini disebut dengan kelompok acara.
  • Barisan kedua, ada kelompok pangantan sonnat atau pangantan duddu’. Barisan ini terdiri dari kelompok laki-laki atau perempuan yang menunggang kuda biasanya disebut dengan jaran kenca’. Jaran kenca’ ini adalah kuda khusus yang terlatih untuk melakukan gerakangerakan tarian sesuai dengan irama tabuan yang mengiringi. Irama
  • yang mengiringi adalah saronen, gendhung, hadrah dan gempa’.
  • Kelompok ini bisa terdiri dari 10 baris atau lebih. Dalam setiap baris ada dua pangantan sonnat yang diiringi satu saronen. Jumlah yang harus disediakan untuk barisan pangantan sonnat ini tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak mempelai. Pakaian yang digunakan hampir sama dengan pakaian pangantan agung. Pangantan sonnat atau pangantan duddu’ ini bisa juga memakai tandhu, jadi pada barisan ini menggunakan dua sarana yaitu jaran kenca’dan tandhu.
  • Barisan ketiga, ratusan famili dari pihak perempuan yang turut serta dalam acara pangantan arak ini.
  • Barisan keempat, pangantan agung (mempelai wanita) yang duduk di dalam tandhu dengan diusung empat orang laki-laki. Tandhu yang dipakai memang sudah disediakan dan bukan dibuat secara mendadak. Pengantin wanita telah menggunakan pakaian lengkap sesuai dengan tradisi turun temurun, diiringi oleh saronen, gedhung,
  • hadrah dan gempa’.
  • Barisan kelima, pangantan agung (mempelai pria) dengan menunggang kuda yang ditutup oleh kuade. Kuda yang dinaiki juga dinamakan jaran kenca’. Kuda yang ditunggangi pengantin pria berjalan di bawah naungan kuade yang juga diusung oleh empat orang laki-laki. Kuda tersebut juga menari sesuai dengan irama yang mengiringinya.

Berikut salah salah satu gambar dari proses pangantan arak:

Proses pangantan arak ini dimulai dari rumah tukang rias dan berakhir di rumah mempelai wanita dengan memakan jarak sekitar ±2 km dan para pengusung tandu ini tidak mengalami pergantian hingga di rumah pengantin wanita. Untuk jaran kenca’ dikendalikan oleh dua orang.

Saronen (semacam alat musik tiup ) dimainkan oleh tujuh orang dengan satu penari. Gendhung (semacam alat musik tabuh) dibawa oleh dua orang dan yang memainkan hanya satu orang. Gempa’’ (semacam alat musik berupa gendang) biasanya dimainkan satu orang sedangkan hadrah biasanya dimainkan lima orang. Jadi jika dikalkulasi orang-orang yang terlibat dalam proses acara pangantan arak ini adalah:

  • Kelompok acara 30 orang
  • Pangantan sonnat/duddu’ 10 pasang dan 10 pasang jaran kenca’ dan tiap pasang ada saronen, gedhung, gempa’ dan hadrah. Kelompok ini ada sekitar 175 orang.
  • Pengiring pangantan agung perempuan yang ada di belakang pangantan sonnat atau duddu’ sekitar 100 orang.
  • Pangantan agung perempuan, empat orang pembawa tandhu, pemain saronen, gedhung, gempa’, dan hadrah dan diiringi keluarga mempelai wanita sekitar 50 orang jadi kelompok ini melibatkan sekitar 75 orang.
  • Pangantan agung pria, empat orang pembawa kuade, kelompok saronen tujuh orang, dua orang pengendali kuda dan sekitar 100 famili mempelai laki-laki. Keseluruhan total yang berpartisipasi dalam acara ini sekitar 448 orang

Tulisan diatas menyalin dari :http://www.lontarmadura.com

Email Autoresponder indonesia