Warga Desa Penghasil Garam Terbesar di Sumenep Gelar Tradisi Nyadar

Warga Desa Pinggir Papas dan Desa Karanganyar Kecamatan Kalianget ketika menggelar tradisi ‘Nyadar’ di makam Syekh Angga Suto.(FOTO: Sai)

SUMENEP, MADURACORNER.COM- Warga Desa Pinggir Papas dan Desa Karanganyar Kecamatan Kalianget merebut berkah Syekh Angga Suto melalui ritual ‘Nyadar’ di pemakaman Asta Buju’ Gubang, Kampung Kolla, Desa Kebun Dadap, Kecamatan Saronggi, Semenep, Sabtu (28/7/2018).

Tradisi selamatan dua kali setahun yang digelar dua desa penghasil garam terbesar di Sumenep itu, berlangsung dua hari berturut-turut. Tujuannya, untuk menghargai jasa dari Syekh Angga Suto sebagai leluhur yang pertama kali mengajari membuat garam.

Kembang dan bedak ditempatkan di makam Syekh Angga Suto sebagai bentuk penghormatan. Bahkan, warga juga mengolesi bagian dahi denga. butiran bedak yang dicampur air putih.

Hal itu dipercaya dapat menghilangkan semua malapetaka yang akan menimpa dan memudahkan rezeki serta mempercepat mendapatkan jodoh bagi para pemuda.

Tidak sedikit sebagian dari warga memilih bermalam. Bagi kaum ibu-ibu diharuskan memasak segala macam masakan dengan ikan laut berukuran besar di halaman Makam Syekh Angga Suto.

Keesokan harinya masakan tersebut, dihidangkan bagi warga dua desa (warga setempat menyebut Kauman), tentunya setelah didoakan oleh para sesepuh desa.

“Masakan disajikan menggunakan wadah besar dari anyaman bambu dan dicat merah,” papar warga Pinggir Papas Samsuri.

Menurutnya, proses Nyadar tersebut, sebanyak 7 sesepuh desa yang memakai blangkon dan memakai baju 1.000 warna. Mereka bertindak sebagai pemimpin dan membacakan doa-doa khusus dalam kegiatan ritual tersebut. Kemudian dilanjutkan makan bersama.

“Meski sedikit tetap diharuskan makan di lokasi itu, bila tidak diyakini akan mendapatkan malapetaka,” tandasnya. (*)

Penulis: Sai

Editor: Riyan Mahesa