Di Rainforest World Music Festival (RWMF) pada akhir Juni, para musisi dari Asia Tenggara dan sekitarnya menyatukan batas antara tradisi dan modernitas, memadukan melodi pribumi dengan jazz, rock, funk dan musik elektronik sambil menunjukkan bagaimana warisan budaya terus berkembang tanpa kehilangan akarnya.
Di antara para penampil adalah ansambel Indonesia Sambasunda, kembali ke festival ini lebih dari dua dekade setelah penampilan pertamanya pada 2004.
“Tantangan terbesar bukan memilih antara tradisi dan modernitas, melainkan menemukan keseimbangan antara keduanya.” — Ismet Ruchimat, pendiri dan komposer Sambasunda
Pendiri dan komposer Ismet Ruchimat mengatakan kelompok itu telah menampilkan repertoar yang lebih tradisional pada debutnya. Tahun ini, bagaimanapun, Sambasunda merangkul pengaruh kontemporer sambil tetap berpegang kuat pada tradisi musik Sunda, dengan sinden (penyanyi) Rita Tila yang terus tampil sepenuhnya dalam bahasa Sunda.
“Tantangan terbesar bukan memilih antara tradisi dan modernitas, melainkan menemukan keseimbangan antara keduanya,” kata Ismet kepada wartawan sebelum naik ke panggung.
Keseimbangan itu melampaui musik itu sendiri. Barisan penampil tahun ini termasuk musisi-musisi muda, di antaranya putra Ismet sendiri, yang ide-ide kreatifnya sering menantang visi artistik ayahnya.