Seorang psikolog pelopor, pendiri studi gender di Indonesia, dan pembela hak asasi manusia yang vokal, Ibu Sap, sebagaimana ia dikenal dengan penuh kasih sayang, telah mengubah pemikiran intelektual menjadi kepemimpinan yang berani, menggabungkan keberanian dengan semangat kelembutan feminin yang khas.
Memilih Jalannya Sendiri
Lahir pada tahun 1926 di masa penjajahan Belanda, Saparinah tumbuh dalam lingkungan sosial yang terpelajar. Ayahnya adalah seorang pegawai sipil dalam administrasi Hindia Belanda, memberinya akses ke pendidikan Eropa. Namun di rumah, adat istiadat tradisional tetap berlaku. Ayahnya menerima makanan terbaik, sementara saudara laki-lakinya menikmati kebebasan yang tidak ia miliki.
Mungkin pengalaman dini inilah yang membantu membentuk semangat mandirinya.
Keluarganya mendorongnya ke arah farmasi, tetapi Saparinah terinspirasi oleh ketekunan Marie Curie. Sebagai seorang gadis, ia akan memanjat pohon tertinggi di kebun dan tenggelam dalam buku-buku, termasuk biografi Curie. Curie menjadi panutannya, tetapi yang menjadi fokus utama seumur hidup dalam karyanya adalah jiwa manusia dan martabat manusia.
Setelah lulus dari Fakultas Farmasi di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1953, Saparinah beralih ke psikologi. Ia meraih gelar sarjana pada tahun 1961, gelar doktor pada tahun 1976, dan menjadi profesor penuh pada tahun 1985.