Selama lebih dari dua dekade, ahli biologi kelautan Prancis, Vincent Chalias, telah bekerja untuk memulihkan terumbu karang Indonesia. Seorang spesialis marikultur, atau budidaya organisme laut di lautan terbuka, ia memulai dengan ambisi komersial sebelum beralih ke pelestarian.
Setelah menuntaskan tiga tahun studi budidaya kelautan di Prancis, Chalias meninggalkan Marseille, asalnya, untuk Kenya, tempat ia bekerja untuk sebuah eksportir ikan hias. Perjalanan bisnis ke Bali membuka potensi pulau itu dan pada akhirnya membawanya mendirikan Ocean Gardener, sebuah LSM yang didedikasikan untuk melatih warga Indonesia dalam konservasi terumbu karang, dengan operasi di Nusa Penida dan Amed.
“Pemutihan dapat menghapus hingga 80 persen terumbu karang. Ia mungkin pulih hingga 70 persen, tetapi El Niño lain dapat mendorongnya turun hingga 10 persen. Ia naik kembali ke 50 persen, lalu turun lagi menjadi 5 persen. Inilah cara terumbu karang mati, sedikit demi sedikit.” — Vincent Chalias, ahli biologi kelautan
Dampak Terlambat
El Niño tahun ini, sebuah fenomena iklim yang berulang yang menghangatkan Samudra Pasifik, telah menimbulkan kekhawatiran terhadap terumbu karang Indonesia. Intensitasnya telah mendorong para pakar iklim untuk menggambarkannya sebagai sebuah peristiwa “Godzilla”, dengan konsekuensi yang berpotensi berat bagi ekosistem laut.
“Untuk saat ini, dampak El Niño ‘Godzilla’ ini belum terlihat di lautan,” ujar Chalias. “Dampaknya dirasakan di daratan, melalui kemarau yang memburuk dan, yang paling dramatis, kebakaran hutan yang melanda Kalimantan dan Sumatera. Kenaikan suhu permukaan laut yang tidak normal, mungkin hingga 2,5 derajat Celsius di atas rata-rata, baru akan mulai menunjukkan konsekuensinya terhadap terumbu karang tahun depan, dan mungkin akan berlanjut hingga 2028.”