Bagaimana Ilmuwan Warga Membantu Menyelamatkan Keanekaragaman Hayati

22 Juni 2026

Setiap akhir pekan, tepat setelah matahari terbit, Toni Espendi akan berjalan dari rumahnya di desa Nanga Embaloh, kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat ke hutan terdekat untuk mencari burung.

Begitu menemukan satu atau lebih burung, ia akan membidik dan mengambil gambar burung-burung tersebut menggunakan lensa telefoto yang terpasang pada telepon genggamnya. Toni kemudian mengunggah foto-foto itu ke dalam sebuah aplikasi sebagai bagian dari program yang disebut KehatiKu, inisiatif dari perusahaan konsultan ilmiah Borneo Futures di mana penduduk setempat dapat membantu pemantauan satwa liar.

“Sekarang kami mengetahui jenis-jenis burung yang berkeliaran di desa kami,” kata Toni. “Burung-burung yang sebelumnya tidak bisa kami namai, sekarang kami bisa mengidentifikasinya.”

Mengambil foto burung telah menjadi pekerjaan sampingan rutin bagi Toni dan warga desa lainnya yang tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian keanekaragaman hayati melalui praktik ilmu pengetahuan warga (citizen science), di mana anggota masyarakat umum terlibat dalam mengumpulkan dan menganalisis data untuk penelitian ilmiah.

Konsep melibatkan orang-orang non-ilmuwan bukanlah sesuatu yang baru, dengan istilah tersebut pertama kali digunakan pada akhir 1980-an. Namun analisis oleh OECD pada tahun 2025 menemukan bahwa praktik citizen science telah meningkat dalam dekade terakhir di berbagai bidang penelitian, meskipun masih didominasi di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar