Apa yang bermula sebagai sebuah kedai makan sederhana di New Orleans telah tumbuh menjadi sebuah nama global dengan lebih dari 150 lokasi, termasuk Jakarta. Namun inti dari restoran ini tetap berakar pada standar yang ditetapkan oleh pendirinya, Ruth Fertel.
Cerita itu bermula pada tahun 1965, ketika Fertel, seorang teknisi laboratorium dan ibu tunggal, menggadaikan rumahnya untuk membeli sebuah kedai kecil di lingkungan bernama Chris Steak House. Ia memasak steaknya sendiri, mempelajari ritme broiler, menyambut tamu di pintu masuk, dan membangun reputasi restoran itu seiring dengan piring demi piring.
“Dia benar-benar tampil menonjol dengan kepribadian dan karakternya untuk memastikan bahwa setiap tamu mendapatkan apa yang mereka cari,” kata Direktur regional Ruth’s Chris Steak House, Kieran Galway, dalam sebuah wawancara pada 13 November.
Tahun ini, merek tersebut merayakan ulang tahun ke-60, yang ditandai di Asia dengan menu peringatan khusus yang menyoroti beberapa hidangan paling populer.
Pengalaman dimulai dengan trio hidangan laut, sebuah penghormatan pada akar New Orleans restoran ini. Disajikan di atas piring oblong yang ramping, trio tersebut memadukan Oyster Rockefeller, sebuah scallop jumbo, dan kue kepiting biru.
“Inilah hidangan pembuka yang paling laris kami,” kata Galway.