Pameran ini mencakup penyelidikan awal mengenai persepsi maupun karya-karya terbaru yang membahas kerentanan ekologis. Di antara karya-karya belakangan tersebut adalah The Last Seven Days of Glacier Ice, sebuah instalasi yang memukau, dibentuk dari pemindaian 3D fragmen glasir di Diamond Beach di Islandia, yang diambil tepat sebelum esnya hilang. Bentuk-bentuk yang dipahat menyerupai bola kaca berukuran raksasa, namun dibuat dari perunggu berpatina putih yang dipadukan dengan elemen kaca. Diatur dari yang terbesar hingga yang terkecil, setiap bentuk mencatat tahap pencairan yang disimulasikan secara digital, menawarkan rekaman yang berkembang dari kehilangan yang berlangsung. Bagi penonton yang mencoba memahami perubahan iklim melalui sesuatu yang lebih visceral daripada data, instalasi ini menjadi contoh realistis untuk memahami wacana tentang perubahan iklim sebagai bukti ekologis visual. Di dekatnya, foto-foto dari seri mencairnya glasier karya Eliasson menggemakan narasi ini, mendokumentasikan lanskap yang bergeser dari wilayah glasial Islandia.
Play of shadows
Warna, salah satu alat paling dikenali oleh Eliasson, menghidupkan beberapa karya yang dipamerkan. Multiple Shadow House (2010) adalah instalasi interaktif di mana siluet pengunjung muncul sebagai bayangan berlapis yang terus berubah. Layar proyeksi tembus pandang membentuk dinding sebuah struktur kayu, diterangi oleh konstelasi lampu berwarna. Saat tubuh bergerak, bayangan berkembang biak, memanjang dan saling tumpang tindih, menghasilkan apa yang dalam pandangan kembali bisa terasa seperti pengalaman hantu.
Sejajar dengan itu, Beauty (1993), di mana cahaya berkilau melintasi kabut halus, memungkinkan pelangi muncul dan hilang dalam ruang yang gelap. Eliasson membuat terlihat negosiasi halus antara cahaya, tetesan, gerak, dan jarak; tidak ada dua penonton yang melihat spektrum yang sama. Warna-warna dari panjang gelombang yang berbeda muncul hanya sesaat, bergeser saat setiap pengamat bergerak melalui kabut. Karya ini menggambarkan bagaimana Eliasson merangkum prinsip ilmiah dan pertemuan puitis menjadi satu momen sensorik.
The Yellow Corridor lebih lanjut menguji batas persepsi. Sepenuhnya jenuh dalam nuansa kuning yang tajam, koridor ini menyempitkan kemampuan mata untuk mendeteksi warna lain. Diciptakan melalui lampu rendah tekanan dengan frekuensi tunggal, koridor ini menawarkan pengalaman yang mengguncang namun mencerahkan, mengingatkan pengunjung bahwa tindakan melihat itu sendiri dapat membentuk pemahaman mereka tentang dunia.
Seni, dunia alam