Di sekelilingnya, orang tuanya dengan saksama menyesuaikan setiap lipatan kain dan setiap perhiasan, memastikan tidak ada sebutir pun manik yang tidak berada di tempatnya sebelum sang putri debut. Itu adalah momen yang jarang disaksikan para penonton: jam-jam kesabaran, keahlian, dan pengabdian keluarga yang tersembunyi di balik pertunjukan gemerlap Jember Fashion Carnaval (JFC).
Diadakan dari 24 hingga 26 Juli, edisi ke-26 festival ini mengusung tema “HEAL” (kemanusiaan, bumi dan kehidupan) yang mengeksplorasi hubungan kemanusiaan dengan alam dan tanggung jawab bersama untuk menjaga masa depan. Sejak didirikan oleh almarhum Dynand Fariz pada tahun 2003, JFC telah berkembang dari sebuah gerakan kreatif lokal menjadi salah satu festival fesyen jalanan Indonesia yang paling dikenal, tempat pembuatan kostum yang rumit bertemu dengan pertunjukan teater dan pengisahan budaya.
Perayaan selama tiga hari itu dibuka dengan World Kids Carnival dan Pets Carnival, diikuti oleh World Able Art Carnival dan Artwear Carnival, sebelum akhirnya berpuncak pada Grand Carnival. Shanum bergabung dalam parade pembukaan, melangkah untuk pertama kalinya sebagai bagian dari World Kids Carnival. Bagi banyak peserta, proses fitting kostum yang dilakukan beberapa hari sebelum acara lebih dari sekadar persiapan praktis. Mereka menandai tahap terakhir sebelum berbulan-bulan desain, menjahit, dan pembuatan tangan akhirnya dihidupkan di jalanan.
Saat arak-arak dimulai, Jalan utama Jember berubah menjadi galeri bergerak budaya, mitos, dan pesan lingkungan. Setiap defile menampilkan narasi visualnya sendiri sambil mencerminkan tradisi festival yang menggabungkan warisan Indonesia dengan pengaruh artistik global.
Budaya di Parade