Kantor Pariwisata Bali telah mengeluarkan peringatan bagi pelaku usaha pariwisata dan atraksi di seluruh pulau karena cuaca buruk diperkirakan akan datang dalam minggu mendatang.
Karena Bali secara resmi memasuki musim hujan, peringatan cuaca ekstrem diperkirakan akan muncul secara rutin selama empat bulan ke depan.

Kepala Kantor Pariwisata Bali, Wayan Sumarajaya, telah mengeluarkan sebuah himbauan kepada operator pariwisata di provinsi tersebut.
Surat tersebut, yang ditujukan kepada semua asosiasi pariwisata dan pelaku usaha pariwisata di Bali, diterbitkan setelah peringatan cuaca ekstrem dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Bali (BMKG).
Peringatan cuaca buruk telah dikeluarkan seiring dengan adanya Siklon Tropis Fung-Wong di Laut Filipina Timur, osilasi Madden-Julian, serta gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial.
Sumarajaya menulis, “Kami meminta semua kepala asosiasi pariwisata untuk mendesak semua anggotanya mempersiapkan dan memaksimalkan semua sumber daya yang tersedia.” Ia mendesak semua outlet pariwisata untuk memprioritaskan kepatuhan terhadap Prosedur Operasional Standar dan meningkatkan komunikasi keselamatan dengan pengunjung serta tamu, terutama saat ramalan diperbarui.
Sumarajaya meminta para manajer pariwisata untuk menilai risiko lingkungan di atraksi dan outlet mereka, termasuk memangkas pohon yang berisiko dan membersihkan selokan serta drainase.
Dia juga memperingatkan semua penyedia pariwisata yang menawarkan aktivitas petualangan seperti arung jeram, berkendara ATV, mengemudi, snorkeling, paralayang, dan pendakian untuk secara teratur memantau ramalan cuaca dan isu peringatan oleh BMKG serta lembaga-lembaga pemerintah seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan untuk merespons sesuai.
Wisatawan yang bepergian ke Bali dalam beberapa minggu mendatang harus siap bahwa aktivitas petualangan bisa dibatalkan atau ditunda jika cuaca ekstrem menimbulkan risiko bagi keselamatan.
Sumarajaya menegaskan bahwa tanggung jawab keselamatan publik tidak hanya bergantung pada pemimpin pariwisata, tetapi juga pada para turis.
Ia mencatat, “Kami juga mendorong wisatawan mancanegara untuk selalu diberi edukasi tentang yang boleh dan tidak boleh dilakukan.” Wisatawan bertanggung jawab memastikan bahwa mereka memiliki asuransi perjalanan dan kesehatan yang komprehensif sebelum bepergian ke Bali. Polis asuransi harus menyediakan perlindungan perawatan kesehatan darurat, serta perlindungan jika terjadi bencana alam dan cuaca ekstrem.
Pada September, para pemimpin di Bali menyatakan keadaan kahar darurat setelah provinsi tersebut mengalami banjir paling parah dalam lebih dari 70 tahun, yang menewaskan delapan belas penduduk setempat.

Awal minggu ini, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menjelaskan apa yang bisa diharapkan wisatawan terkait cuaca di Bali dalam beberapa bulan mendatang, serta potensi risiko yang ditimbulkan oleh kondisi iklim yang sangat berfluktuasi.
Fathani menjelaskan, “Fenomena La Niña yang lemah saat ini sedang berlangsung dan diperkirakan bertahan hingga Maret 2026. Namun dampaknya terhadap peningkatan curah hujan tidak dianggap signifikan selama puncak musim hujan.”

Ia melanjutkan, “La Niña yang lemah akan bertahan hingga awal 2026, tetapi dampaknya terhadap curah hujan selama puncak musim hujan tidak signifikan. Namun, curah hujan yang tinggi selama periode ini tetap membutuhkan kewaspadaan.”
Cuaca ekstrem ini diperkirakan tidak hanya berdampak pada Bali, tetapi juga pada banyak wilayah yang sangat padat penduduknya di Indonesia, termasuk Jawa, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua bagian selatan.

Sehubungan dengan peringatan cuaca ekstrem yang berkepanjangan, Menteri Pekerjaan Umum Indonesia (PU) Dody Hanggodo, seperti Sumarajaya, menyerukan kepada semua lembaga dan publik luas untuk meningkatkan upaya persiapan.
Dia mengatakan kepada para wartawan, “BMKG telah memperingatkan bahwa intensitas curah hujan di berbagai wilayah Indonesia akan meningkat secara signifikan, berpotensi menyebabkan banjir dan longsor di beberapa wilayah. Oleh karena itu, saya menekankan pentingnya langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan dari semua tingkat pemerintah, baik pusat maupun daerah.”