Kasus Asusila Tak Kunjung Selesai, Masyarakat Geger Demo Ke Polres Dan Kejaksaan Bangkalan

Aliansi mahasiswa dan masyarakat Geger menuju Kantor Kejaksaan Negeri Bangkalan

Bangkalan, maduracorner.com, Seperti diketahui, beberapa waktu yang lalu terjadi kasus asusila di Buju’ Geger, Kecamatan Geger Kabupaten Bangkalan. Kasus tersebut lantas  dilaporkan oleh warga masyarakat Geger ke Polres Bangkalan. Perbuatan yang dianggap melanggar norma – norma di masyarakat tersebut dianggap bermasalah oleh masyarakat Geger dan menduga pihak Kejaksaan Negeri Bangkalan maupun Polres Bangkalan bekerja tidak profesional, sehingga ratusan orang yang berasal dari Aliansi mahasiswa Geger dan masyarakat Geger melakukan unjuk rasa di Polres Bangkalan dan Kantor Kejaksaan Negeri Bangkalan pada Senin (14/03/2022).

Dalam rilis yang dibagikan oleh koordinator aksi, Holilur Rahman dijelaskan bahwa Aliansi mahasiswa dan masyarakat Geger menganggap perilaku seperti itu (asusila, red) adalah hal yang tidak pantas dilakukan dimuka umum. Apalagi dikeramatkan oleh masyarakat secara adat. “Tersangka kasus asusila HPS mengaku dirinya tidak melakukan asusila. Padahal jelas-jelas tersangka ditemukan warga dengan tidak berbusana. Selain itu tersangka mencoba bermanufer mengadu pihak lain dengan UU ITE melalui kuasa hukumnya dalam aduan ITE. Polisi telah meminta keterangan terhadap 3 orang/masyarakat, akan tetapi terkait pemberian keterangan tersebut di duga oleh kepolisian dibocorkan kepada pihak pengadu atau kuasa hukumnya.” Tuturnya. 

Bacaan Lainnya
umroh

Menurutnya, seharusnya keterangan pada saat proses penyelidikan adalah merupakan informasi rahasia sebagai dimaksud pasal 17 poin a ayat (2) tentang informasi yang dikecualikan, sehingga dalam unjuk rasa tersebut, pengunjuk rasa menuntut agar Polres Bangkalan menangani kasus asusila di Buju’ Geger secara profesonal dan menuntut Kapolres Bangkalan untuk menindak penyidik yang telah membocorkan informasi keterangan/sikap pemberian keterangan kepada pihak lain, pengadu, kuasa hukumnya.

Usai berunjuk rasa di Polres Bangkalan, pengunjuk rasa mendatangi kantor Kejaksaan Negeri Bangkalan dan menyampaikan bahwa kasus asusila di Buju’ Geger tersebut membuat banyak masyarakat khususnya Kecamatan Geger teramat geram. Lantaran tempat yang selama ini di yakini sebagai Buju’ mulia dan keramat dikalangan masyarakat, telah dikotori dan ternodai dengan ditempati melakukan hal yang tidak pantas dilakukan dimuka umum. 

Kapolres Bangkalan dan Kajari saat menemui massa pengunjung rasa.

Masyarakat Kecamatan Geger sangat mengharap pelaku bisa di diadili dengan seadil-adilnya sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Pelaku kasus asusila tersebut di jerat dengan pasal 281 KUHP dengan  ancaman pidana penjara maksimal dua tahun delapan bulan atau pidana denda, paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Segala proses hukum kasus ini sudah dilakukan mulai dari penyidikan yang meliputi pemeriksaan pelapor, saksi dan tersangka. Namun Kejaksaan Negeri Bangkalan sudah dua kali menyatakan P19 berkas perkara pidana kasus asusila di buju’ Geger.

Pengunjuk rasa menuntut agar Kejaksaan Negeri Bangkalan memproses kasus asusila di Buju’ Geger secara professional. Menuntut Kejaksaan Negeri Bangkalan untuk menindak Jaksa jaksa yang tidak sungguh-sungguh menangani kasus ini. Meminta Kejaksaan Negeri Bangkalan C.q jaksa penuntut umum untuk menyatakan P21 berkas perkara kasus asusila di Bujuk Geger. Apabila Kejaksaan Negeri Bangkalan tidak memenuhi tuntutan-tuntutan ini, pengunjuk rasa mengancam akan melakukan pengawalan dan aksi demostrasi berkelanjutan sampai kasus tersebut tuntas.

Kapolres Bangkalan, AKBP Alith Alarino S.I.K saat menemui para pengunjuk rasa menyampaikan, “Saya pastikan kasus ini terus berlanjut, berjalan dan akan kita tindak lanjuti secara profesional.” Tegasnya.

Alith lantas melanjutkan, “Yang kedua, Jika saudara-saudara sekalian menemukan atau menduga hal- hal yang tidak profesional dilakukan para penyidik saya, silahkan ada jalurnya. Disini ada Kasi Propam, sebagai penangan atau penindak internal, silahkan laporkan. Nanti Propam atau Provost akan melakukan penyidikan. Kalau memang anggota saya tidak benar atau salah akan saya lakukan penindakan.” Pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Bangkalan, Chandra Saptaji, SH saat didepan pengunjuk rasa menyampaikan, “Kami tidak punya kepentingan apapun dalam permasalahan ini kecuali penegakan hukum. Beribu-ribu kasus sudah kami tangani, Cuma satu yang kami pentingkan disini, Yaitu proses penegakan hukum. Kami tidak mau ketika kasus ini dilimpahkan ke pengadilan, perkara ini bebas, kalian mau tidak bertanggungjawab tidak kalau pelaku kasus ini bebas. Kalian tidak mau kan… “ Tutur Kajari lantang.

Chandra, sapaan akrab Kajari Bangkalan lantas melanjutkan, “Oleh sebab itu, pentingnya petunjuk, pentingnya memberikan petunjuk supaya kasus ini terang benderang dan sempurna ketika kita ke pengadilan. Saya tegaskan tidak ada permainan disini. Tidak ada intervensi, yang jelas kasus ini akan kita tuntaskan setuntas- tuntasnya. Tidak perlu ada kekhawatiran, perkara ini akan kami tuntaskan setuntas tuntasnya.” Pungkas Chandra.

Mendapat jawaban baik dari Kapolres Bangkalan maupun Kajari, massa pengunjuk rasa yang diperkirakan berjumlah antara 350 hingga 400 orang tersebut kemudian membubarkan diri dengan tertib dan dikawal oleh mobil BackBone Polsek Geger. (San)

Pos terkait