Selain pendudukan dan dugaan genosida yang didokumentasikan oleh sebuah komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Israel juga menggunakan Palestina sebagai tempat uji coba senjata dan teknologi pengawasan sebelum dipasarkan ke luar negeri.
Jurnalis dan penulis Antony Loewenstein, seorang jurnalis investigatif lepas yang berbasis di Sydney dan telah meliput konflik Israel-Palestina selama 20 tahun, merinci praktik-praktik ini dalam bukunya The Palestine Laboratory: How Israel Exports the Technology of Occupation Around the World.
Serangan udara yang melibatkan pesawat tempur dan rudal, disertai operasi darat yang menggunakan munisi pengintai yang melayang (loitering munitions) dan senjata lainnya, telah menggempur wilayah Palestina selama kampanye militer Israel, yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil.
Israel juga telah memasang kamera CCTV di seluruh wilayah yang diduduki, menempatkan drone, dan menggunakan alat pengumpul data untuk secara terus-menerus memantau warga Palestina.
Loewenstein mengatakan saat diskusi bukunya di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 20 November, bahwa senjata dan alat pengawasan yang pertama kali digunakan untuk mengendalikan orang Palestina kemudian dipasarkan sebagai produk yang “terbukti di lapangan”. Negara-negara Eropa menjadi pembeli terbesar Israel, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Ia menambahkan bahwa alat pengawasan juga telah menjadi sarana diplomatik bagi Israel, dengan beberapa negara Arab juga membelinya meskipun ada harapan publik dari warga negara mereka untuk mendukung Palestina.