Masa Depan Fesyen: Desainer Indonesia Menavigasi Era Disrupsi

7 November 2025

“Kita hidup di era yang begitu rapuh,” kata penata busana Alyssha Nila dalam campuran bahasa Inggris dan Indonesia saat diskusi di Fashion Nation XIX di Senayan City, Jakarta, pada 24 September. “Segalanya sulit, tetapi tidak sepenuhnya. Begitulah, agak aneh.”

Kata-katanya menangkap kontradiksi zaman kita. Era digital yang serba cepat menuntut kreativitas tanpa henti, meskipun peniruan menyebar secepat klik. Label-label baru memenuhi pasar, sementara konsumen menjadi lebih berhati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi.

Di bawah tekanan ini, para desainer Indonesia memikirkan ulang apa arti kreativitas dan produktivitas saat ini: beradaptasi dan menemukan cara untuk berkembang di tengah kekacauan.

“Merek kami tumbuh pada masa kejayaan media cetak,” kenang desainer yang berbasis di Bandung, Deden Siswanto. “Era itu berbeda sekali pada waktu itu.”

Deden meluncurkan label yang namanya sendiri pada tahun 1995, ketika tampil di majalah fesyen bisa melambungkan seorang desainer ke ketenaran. “Dulu, kita benar-benar harus berjuang untuk bisa tampil di majalah-majalah tertentu,” katanya. “Tapi sekarang, semua orang bisa terkenal. Yang perlu dilakukan hanyalah memposting di media sosial.”

Perancang Restu Anggraini berbagi pandangan serupa.

“Saat saya baru memulai, sangat-sangat sulit untuk mempromosikan merek kami,” katanya. “Sekarang sungguh berbeda. Era digital telah mengaburkan batas-batas geografis. Dengan mengunggah barang-barang kami ke media sosial, orang-orang dari seluruh dunia bisa mengenal kami.”

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.