Masyarakat Bumi: Seni di Masa Dunia Terurai

16 November 2025

Para seniman yang berpartisipasi mendekati tema ini melalui berbagai material dan media. Beberapa berasal dari pengalaman pribadi atau geografi lokal, sementara yang lain membahas krisis ekologi dan sosial global. Secara kolektif, karya-karya mereka menangkap momen pertimbangan antara kehancuran dan pemulihan, keputusasaan dan imajinasi.

Kehancuran dan Renungan

Beberapa instalasi menonjol tidak hanya karena skalanya, tetapi juga karena kemampuannya untuk menerjemahkan kegelisahan masa kini ke dalam bentuk visual.

Syakiep Sungkar, yang lahir pada tahun 1962 dan pernah menjadi pengusaha serta kolektor seni, mempersembahkan Penghormatan untuk Junkfood, sebuah instalasi berukuran enam kali delapan meter di mana sebuah kerangka terbaring di atas ranjang berbulu yang dijaga oleh dua maskot makanan cepat saji. Pada awalnya lucu, adegan itu segera menjadi tidak nyaman: sebuah elegi komik gelap bagi masyarakat yang kelebihan konsumsi secara fisik namun kelaparan secara rohani.

Jika karya Syakiep mengkritik kemewahan berlebihan, Awan Simatupang menyalurkan ketakutan eksistensial. Instalasinya Entah Kapan (Siapa Tahu Kapan) mengambil bentuk sebuah tanda neon raksasa yang terbuat dari potongan seluloid yang diterangi LED. Ketika dinyalakan, itu membangkitkan kilatan cahaya yang menyilaukan dari ledakan, gema yang menghantui Hiroshima, dan peringatan bahwa bencana selalu dekat.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.