Didirikan pada 24 April 1778, sebagai Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavian Society of Arts and Sciences), museum ini telah tumbuh menjadi museum terbesar di Indonesia, dengan sekitar 190.000 objek dalam perawatannya, mulai dari fosil prasejarah dan patung Hindu-Buddha hingga koin kuno, harta peninggalan kerajaan, dan artefak terkait dengan akar bangsa ini.
Lembaga ini juga telah melewati masa-masa guncangan. Pada 2023, api melalap bagian belakang Gedung A, merusak sebagian arsitektur neoklasiknya dan ratusan objek koleksi. Pembukaannya kembali menampilkan sebuah pameran pemulangan yang menandai tonggak sejarah, menampilkan lebih dari 300 objek yang dikembalikan dari Belanda.
Lebih baru lagi, museum menerima lebih dari 28.000 fosil dari koleksi dokter Belanda Eugène Dubois, termasuk Java Man, fosil Homo erectus pertama yang ditemukan. Ditemukan di dekat Sungai Bengawan Solo di Jawa Timur pada 1890-an, fosil-fosil itu telah berada di Belanda selama lebih dari satu abad sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Mereka sekarang dipamerkan di Gedung A sebagai bagian dari pameran permanen “Sejarah Awal” (Early History).
“Tahun ini, 28.000 fosil lagi dari koleksi Eugène Dubois juga dijadwalkan akan dikembalikan ke Indonesia,” kata Esti Nurjadin, kepala Museum dan Warisan Budaya, sebuah badan layanan publik di bawah Kementerian Budaya yang mengelola Museum Nasional dan beberapa museum serta situs warisan budaya lainnya, pada pertemuan pers di Jakarta pada 24 April.
Sejak dibuka kembali, museum telah melampaui pameran menjadi ruang berkumpul yang diisi oleh latihan gamelan, sesi yoga, konser, dan acara publik. Untuk menandai hari jadi, museum meluncurkan dua pameran permanen baru dan satu pameran temporer di Gedung A dan Gedung B.
“Tahun ini, 28.000 fosil lagi dari koleksi Eugène Dubois juga dijadwalkan akan dikembalikan ke Indonesia.” — Esti Nurjadin, kepala Museum dan Warisan Budaya