Diselenggarakan di museum pada 28–29 Oktober, Panggung Maestro adalah platform berulang yang diselenggarakan oleh yayasan nirlaba Bali Purnati Center for the Arts yang merayakan para maestro Indonesia dan tradisi rapuh yang mereka lindungi. Musik dan seni pertunjukan Sumatera Barat menjadi salah satu sorotan tahun ini, menarik penampilan langka dari beberapa tetua yang paling dihormati di wilayah tersebut.
Di atas panggung, dua baris wanita lanjut usia yang mengenakan busana adat Sumatera Barat duduk dengan anggun di lantai, tangan mereka bergerak dengan keahlian terlatih atas instrumen-instrumen tersebut. Gong, talempong (gong bejana kecil), gendang (drum berkepala dua) dan rebano (drum genggam) meledak dalam ritme presisi yang memikat dari ansambel Gondang Baroguang, memesona malam itu.
Seni suci Nagari Lubuak Gadang
Merupakan hak istimewa yang langka bagi penonton untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.
Gondang Baroguang, para pelaku seni suci Nagari Lubuak Gadang di dataran tinggi terpencil Pasaman, belum pernah tampil di luar desa mereka sebelumnya. Bahkan di rumah, ansambel ini hanya terdengar selama Idul Fitri, Idul Adha, dan beberapa upacara seremonial yang diselenggarakan bagi bangsawan setempat.
“Kami, para pemangku adat Nagari Lubuak Gadang, sangat bangga membawa ansambel musik tradisional kami, yang diyakini telah ada sejak 1835, ke atas panggung yang begitu megah ini,” kata Sarfin.