PH Verawaty: Saksi Ahli Bahasa Tak Pernah Melihat Video Rekaman

Pengambilan sumpah terhadap saksi A the Charge pada persidangan

Bangkalan, maduracorner.com, Gelar persidangan Verawaty Martini yang dilaporkan dalam kasus pencemaran nama baik oleh pelapor Aditya Sutedja memasuki babak baru dalam sidang ke 7 yang digelar di Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Bangkalan, Kamis (17/03/2022). Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan dari saksi ahli yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) sekaligus sidang mendengarkan keterangan saksi A the Charge.

Majelis hakim yang dipimpin oleh Oki Basuki Rachmat,SH, MM, MH ini memulai persidangan sekitar pukul 13.30 wib tersebut sempat terjeda usai pengambilan sumpah saksi A the Charge dikarenakan majelis hakim sempat menegur salah seorang Jurnalis yang merekam jalannya persidangan tanpa seijin Humas Pengadilan Negeri Bangkalan dan Majelis hakim.

Bacaan Lainnya

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Anjar Purbo Sasongko, SH, MH usai pelaksanaan persidangan kepada media mengutarakan bahwa agenda sidang pada hari ini adalah pemeriksaan ahli dan saksi A the Charge. 

“Sesuai penundaan agenda sebelumnya, pemeriksaan saksi ahli dari kami dan juga ada pemeriksaan saksi A the Charge, saksi yang meringankan dari terdakwa. Saksi ahli kami dari Universitas Negeri Surabaya, ahli bahasa. Untuk fakta baru, rasanya tidak ada, ya ceritanya seperti itu.” Tuturnya. 

Direncanakan, agenda persidangan minggu depan adalah pembacaan tuntutan, “Sidang minggu depan mungkin memasuki pembacaan tuntutan.” Pungkas JPU.

Sementara itu, Penasehat Hukum (PH) Verawaty Martini, Rangga B. Rikuser, SH usai persidangan kepada media menyampaikan, “Terimakasih, untuk sidang hari ini yang pertama dari saksi ahli bahasa yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum, kemudian setelah itu, saksi meringankan (a the Charge) dari pihak kita, yaitu saudara Agus dan ibu Lorena. Mereka berdua menjelaskan bahwa ibu Lorena adalah salah satu Direksi dari PT Asma Sari Manikam dan memang kegiatan-kegiatan itu dilakukan di Bangkalan, di jalan KH. Lemah Duwur, gudang lama. Itu memang dilakukan untuk pengiriman gas elpiji baik yang 3 kg maupun 12 kg. Ada juga kegiatan PT Elmas juga dilakukan disitu juga (gudang lama, Jl. KH Lemah Duwur Bangkalan).” Paparnya.

Rangga lantas melanjutkan, “Terkait saksi saudara Agus yang pada waktu itu bekerja dengan bapak Sutjipto juga mengatakan terkait dengan gudang lemah duwur itu ada pengiriman-pengiriman karena memang profesi saudara Agus tersebut adalah supir Truk untuk pengiriman gas elpiji. Jadi, Alhamdulillah dengan saksi ini menjadi lebih terang, bahwa tidak ada suatu sebab dari klien kami mengeluarkan suatu pernyataan demikian.” Sambung Rangga.

“Kami juga sampaikan tadi kepada ahli bahasa, atas pertanyaan dari kami, ahli bahasa tersebut belum pernah diperlihatkan video hasil rekaman tersebut. Jadi, kami keberatan ahli tersebut menunjuk nama seseorang langsung yang mana hal itu tidak pernah dilontarkan oleh klien kami bu Vera. Jadi tidak ada dalam video rekaman itu menunjuk nama seseorang.  Yang ada adalah bos, Bos kalian maling karyawannya pun juga maling. Jadi tidak ada disebutkan nama disitu.” Tutupnya.

Putra dari saksi A the Charge, Artha, kepada media menyampaikan bahwa dirinya mewakili ibunya, Lorena Novianti, Direksi PT Asma Sarimanikam mengutarakan bahwa ibunya menyampaikan fakta atau kronologis di awal, “Kalau di lihat kronologis fakta di awal, itu memang betul adanya. Karena saya pun mengetahui keberadaan PT – PT tersebut  seperti Elmas, Dwi Wira kemudian ada PT Satria, Metro, Pratama dan sebagainya itu memang pengendaliannya ada di Bangkalan, di lemah duwur itu termasuk milik kami, PT Asma Sari Manikam dan satu lagi, rekanan sepupunya Aditya (pelapor) Tri Wira Sumenep. Penyaluran atau kegiatannya ada di Sumenep namun komandonya ada di Bangkalan. Siapa yang mengendalikan ? yang mengendalikan adalah Sri dari awal, Sri adalah anak buahnya pak Tjipto sebagai pemilik dari PT Elmas.” Pungkasnya.  (San)

Pos terkait