Pada pandangan pertama, judul album ini mungkin menyiratkan sebuah pernyataan cinta yang membara atau sumpah terhadap sesuatu yang ilahi. Ini juga bisa ditafsirkan sebagai komitmen abadi sang seniman terhadap keahliannya dalam berkarya.
Namun dalam sebuah wawancara pada 29 Okt., Rafi membagikan bahwa ia tidak berniat membuat judulnya terdengar hiperbolik melodramatis atau romantis. Ternyata, bagi Rafi frasa “hari ini, esok hari dan selamanya” berasal dari sumber jiwa yang sama: harapan.
“Saya pikir album ini menyampaikan musik saya sekaligus perjalanan hidup saya selama 21 tahun terakhir. Jadi saya berharap semua yang saya rasakan akan menjadi harapan dan doa untuk hari ini, esok hari, dan selamanya,” jelasnya.
Api internal
Melihat ke belakang, Rafi tampaknya memiliki hubungan yang menarik dengan waktu. Misalnya, meskipun ia baru merayakan ulang tahun ke-22 pada tanggal 31 Oktober, ia telah mengumpulkan pengalaman yang tidak kalah dengan karier seorang veteran berpengalaman di industri musik lokal.
Jalur musik Rafi dimulai sejak dini, ketika ia ikut serta dalam generasi kedua grup musik anak-anak Di Atas Rata-Rata (DARR), yang dipimpin oleh musisi Erwin dan Gita Gutawa. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, ia merasakan bagaimana rasanya menjadi artis label besar maupun musisi indie.