SANIMAN, ‘Seniman’ di Segala Bidang
( in memoriam of Saniman Al Madury)

Saya mengenalnya medio 2012 saat sama-sama menjadi dosen baru di FEB UTM Bangkalan. Hingga saat saya pindah tahun berikutnya, percakapan langsung dengan Saniman mungkin bisa dihitung jari. Interaksi intensif dengannya justru banyak terjadi sesudahnya, di FB, WAG maupun japri. Saya dan Saniman banyak beririsan di kegiatan silaturahmi dan konsolidasi.

Saniman adalah wujud working class hero sejati. Ia berjuang untuk ‘kelas’nya sehingga lebih baik. Saniman terlahir dari keluarga petani-santri di Sumenep dan berhasil menjadi pengusaha dan dosen di Bangkalan. Perjuangannya ia tempuh sendiri dengan kerja keras dan berjejaring, sehingga ia tidak hanya ‘naik kelas’ sendirian, tapi juga bersama ‘jama’ah’-nya.

Saniman multitalenta. Tidak hanya mahir bicara, tapi juga menulis, dan bekerja. Ia arsitek banyak kegiatan kampus dan kemasyarakatan. Kreator, inovator dan motivator. Saniman tidak hanya membangun, tapi juga membuatnya bekerja dengan baik, dan ‘indah’. Ia layak disebut seniman, di segala bidang.

*
Profesi dosen di prodi D3 Kewirausahaan Jurusan Manajemen FEB UTM sesungguhnya hanya formalisasi-status bagi passion aslinya. Ia memang orang dengan minat mencipta, berkarya dan berkarsa. Mayoritas waktunya justru tidak di ruang kelas, tapi di tengah masyarakat. Dan tidak hanya di dunia usaha, tapi juga agama, industri, organisasi, yayasan, pemerintahan, bahkan komunitas hobi.

Saya melihat banyak business-preneur sukses, tapi mereka tidak cakap sebagai socio-preneur, pun sebaliknya. Tapi di diri Saniman saya melihat kedua tipe preneur itu menyatu. Saniman tidak hanya sukses menjadi pengelola TV, tapi juga pengasuh yayasan. Ia tidak hanya menjadi CEO inkubator bisnis kampus, tapi juga koordinator kegiatan amal sosial. Ia ustadz sekaligus coach .

Jika boleh saya tambahkan, ia juga edu-preneur yang handal. Ia membantu pembangunan sebuah sekolah tahfidz kecil sehingga menjadi lebih besar. Ia carikan pendanaan serta ia santuni sendiri. Saniman membuat saya geleng kepala tentang caranya membagi waktu, pikiran, uang, energi dan spiritnya. Saya hampir tidak bisa menyematkan satu profesipun padanya. Bukan karena tidak ada yang dikuasainya, tapi dari saking banyaknya.

Lokus Saniman tidak hanya di kampus UTM dan Bangkalan, atau Jatim, tapi sudah ke internasional. Tahun 2018 ia hadir dalam international conference di Bali sebagai peneliti sekaligus ‘advokat’ petani. Saniman memperjuangkan nasib petani tembakau yang sering menjadi korban ketidakadilan harga beli oleh pabrikan.

*
Pergaulan Saniman dengan berbagai kalangan menjadikannya dipercaya untuk mengemban amanah sebagai dewan, presidium, penasehat, pembina atau apapun istilah bagi posisi tertinggi di sebuah organisasi. Di KAHMI Bangkalan ia diamanahi sebagai presidium, karena semua percaya pada energi dan ketulusan Saniman. Ia menjadi titik temu bagi banyak kepentingan. Saniman sosok solidity maker, conflict resolver dan fund raiser.

Semua hormat pada saniman, tidak tua tidak muda. Wajahnya yang murah senyum dan outspoken membuat semua orang yang pertama bertemu langsung hafal dan senang bertukar pikiran dengannya. Dalam caranya berproses, kita bisa melihat betapa ia berjuang untuk selalu lebih baik. Dalam hal apapun, baik teknologi, bahasa, adab, pergaulan, ekonomi atau prestasi.

Saat harus mencari sosok untuk bercermin, Saniman adalah figur tepat. Jika kita merasa telah berbuat banyak, maka kita akan malu jika melihat apa yang telah diperbuat Saniman. Bagi saya, Saniman adalah cambuk penyemangat dan jejak pengingat bahwa saya belum bekerja apa-apa. Saniman adalah ladang puji, monumen prestasi, dan prasasti bhakti.

*
Mungkin pertemuan terakhir saya dengan Saniman sekitar 3 tahun lalu. Saya mendengar ia mengidap kanker, sehingga tubuhnya yang saya tahu gemuk, mulai mengurus. Setiap berjumpa kawan di Bangkalan, selalu terselip pembicaraan tentang tokoh muda Madura ini.

Hari ini, Sabtu 6 Sya’ban 1442 H, saya mendengar ia telah pergi untuk selamanya. Saya tak kan sempat lagi diskusi dengannya tentang advokasi petani, kelas kewirausahaan, inkubasi bisnis, TV lokal, komunitas bola, perkaderan aktivis, pondok pesantren, sosbudhankam, jurnalisme, pariwisata, politik, atau hal lain yang jika ditulis bisa menjadi dua paragraf tersendiri.

Saya, bersama kawan seperjuangan, masyarakat yang dibela dan dibantunya, murid-santri yang diajarinya, anak yatim-fakir yang disantuninya, bersaksi bahwa ia mewakafkan sebagian besar hidupnya untuk amal soleh. Ia telah lama menahan sakit. Semoga itu menjadi peluntur dosa khilafnya semasa di dunia, sehingga ia bisa menhadap Sang Khaliq dalam keadaan putih suci tanpa noda.

Selamat jalan kawan. Madura kehilanganmu. Kami bersaksi engkau telah banyak menanam di alam fana’ ini. InsyaAllah engkau akan menuainya alam baqa’. Kami tahu tetes air mata tak berarti di tengah musim hujan ini, tapi ia jatuh sendiri. Kembalilah ke sisi-Nya dalam sejuknya bumi.

Pamekasan, 20 Maret 2021 M
AJ (teman seperjuangan mengajar)

Email Autoresponder indonesia