Turis Pendaki Gunung Batur Bali Diperintahkan Menunjukkan Hormat Lebih terhadap Alam

9 Juni 2026

Gunung Batur adalah salah satu lanskap alam paling mengesankan di Bali. Gunung berapi yang masih aktif ini menerima ribuan wisatawan setiap minggu, baik mereka yang menempuh pendakian ke puncak maupun yang mengikuti tur jeep saat matahari terbit di lereng-lerengnya yang berpasir hitam.

Sementara sebagian besar wisatawan menghormati lingkungan selama kunjungan mereka, tampaknya semakin banyak orang membuang sampah sembarangan dan gagal melindungi lanskap tersebut.

Tourist Hiker on Mount Batur in Bali.jpg

“Leave No Trace” bukan hanya untuk kunjungan ke pantai. Leave No Trace benar-benar berarti tidak meninggalkan apa pun selain jejak kaki, terutama di lanskap suci seperti lereng Gunung Batur.

Gunung Batur di Bali, pada faktanya, dilindungi sebagai Geopark UNESCO dan sebagai lanskap yang dilindungi oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Indonesia.

Para pemimpin yang bertanggung jawab atas lanskap ini telah berbicara kepada wartawan tentang peningkatan jumlah sampah yang ditinggalkan di sepanjang jalur pendakian Gunung Batur dan di titik-titik pandang.

Berbicara kepada wartawan, Kepala Kecamatan Kintamani, Ketut Erry Soena Putra, mengatakan bahwa jumlah pendakian dan kunjungan ke pegunungan di daerah Kintamani terus menunjukkan pertumbuhan positif, tetapi dalam pertumbuhan ini terdapat masalah: semakin banyak sampah sembarangan, wisatawan yang kurang bertanggung jawab, dan pemandu tur.

Ia mencatat bahwa ini adalah masalah yang terlihat di Gunung Batur tetapi juga di seluruh wilayah Kintamani yang lebih luas, yang dikenal karena perbukitannya yang bergelombang, jalur pendakian berhutan, dan retret di tepi danau.

Putra kepada wartawan, “Wilayah Kintamani, dengan medan pegunungannya, memang menjadi tujuan favorit bagi pendaki. Namun, masalah umum adalah adanya sampah yang terus ada, karena kurangnya kesadaran untuk membawa kembali sampah yang dihasilkan selama pendakian.”

Ia mengajak semua pendaki dan pengunjung ke lanskap alami Kintamani, terutama Gunung Batur, untuk lebih berhati-hati menjaga kelestarian lingkungan alami dan melampaui upaya menjaga kebersihan.

Putra memuji para wisatawan yang bertanggung jawab dan mengucapkan terima kasih kepada para pemandu, kelompok pendakian lokal, dan penduduk setempat yang berkomitmen meningkatkan kesadaran akan masalah ini dan yang menyelenggarakan kegiatan pembersihan secara rutin di seluruh area.

Putra berkata kepada wartawan, “Saya bersyukur kepada komunitas pendakian, forum pendakian, dan pemandu gunung yang telah membantu melaksanakan kegiatan pembersihan sampah di daerah pegunungan.”

Ia menambahkan, “Yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran di antara setiap pendaki. Setiap sampah yang dibawa naik ke gunung harus dibawa turun kembali. Dengan cara ini, keindahan dan keberlanjutan Gunung Batur dan Gunung Abang dapat dipertahankan untuk generasi mendatang.”

Saat wilayah Kintamani semakin populer di kalangan wisatawan, para pemimpin dan komunitas yang lebih luas semakin menyadari perlunya memprioritaskan perlindungan lingkungan.

Bagaimanapun, salah satu daya tarik terbesar Kintamani bagi wisatawan adalah keindahan alamnya, dari puncak Gunung Batur dan Gunung Abang hingga air Danau Batur yang berkilau, melalui kaki bukit berhutan dan lahan pertanian yang subur. 

Pada Maret 2026, Pemerintah Kabupaten Bangli, yang bertanggung jawab atas seluruh kawasan Kintamani, berinvestasi dalam membersihkan sampah di Danau Batur.

Tourist Looks From Kintamani View Point in Bali at Moount Batur

The Regent of Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, told reporters at the time, “We want to ensure that Lake Batur remains sustainable, its environment is healthy, and its water quality is good so that it can continue to provide benefits to the community.”

The clean-up took place at four key spots across the lakeside, starting at Jaba Pura Ulun Danu Songan, before moving to Pura Jati, Kedisan Pier, and Trunyan Village.

The event proved a success, with more than 5,000 people taking part in the community clean-up effort. 

View of Lake Batur in Kintamani Bali

The teams not only clean up trash around the lakeside but also invest in supporting the aquatic ecosystem too.

A total of 10,000 tilapia seeds and approximately 1,000 liters of eco-enzyme were also released into the lake to help maintain water quality naturally.

Galungan Penjor Stands Close to Lake Batur in Bali

Kintamani adalah destinasi yang tidak boleh dilewatkan bagi para pencinta alam di Bali. Sementara sebagian besar wisatawan mengunjungi wilayah ini untuk menjelajahi Gunung Batur yang ikonik, masih banyak hal lain yang bisa dinikmati.

Dari para pemanggang kopi kelas dunia di Jalan Penelokan, melalui lokasi glamping di sepanjang tepi Danau Batur, melalui pemandian air panas, dan proyek agroturisme berbasis komunitas yang selalu siap untuk lebih banyak pengunjung, ini adalah salah satu destinasi teratas Bali pada tahun 2026 dan layak untuk menginap semalam—atau lebih!

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar