Berlatar era 1990-an, film ini mengikuti Biru Laut (Reza Rahardian), seorang mahasiswa sastra Inggris di Yogyakarta, dan para anggota Winatra, sebuah kelompok mahasiswa yang menantang pemerintah melalui tulisan, diskusi, dan aksi protes di jalan. Seiring aparat berwenang semakin mendekat, kelompok ini menghadapi penganiayaan politik yang berujung pada hilangnya paksa.
Cerita kemudian beralih kepada mereka yang tertinggal serta keluarga dan teman-teman yang terperangkap dalam dampak dari sejarah yang belum terselesaikan, terutama saudara perempuan Laut, Asmara Jati.
Ditulis bersama oleh Leila dan Yosep, film ini berfokus pada masa muda, keluarga, dan persahabatan.
Yosep mengatakan para pembuat film ingin menggambarkan perjuangan para pemuda melalui Laut dan kawan-kawannya, termasuk Kasih Kinanti (Dian Sastrowardoyo), yang memimpin kelompok tersebut saat mereka melarikan diri.
Menggambarkan film ini sebagai fiksi sejarah yang berlandaskan penelitian, Yosep mengatakan produksi film ini bertujuan memberi penghormatan kepada korban hilangnya paksa dan keluarga mereka.
Alih-alih menonjolkan kekerasan grafis, para pembuat film telah memilih untuk fokus pada aspirasi para aktivis dan tragedi yang menyusul.