Desa Wisata Budaya Baru di Bali Akan Dibangun pada 2026

28 Januari 2026

Menyelam dalam budaya adalah salah satu alasan paling populer mengapa para wisatawan berkunjung ke Bali. Pulau ini menjadi rumah bagi budaya yang sangat unik, dan terlepas apakah wisatawan datang untuk liburan pantai klasik atau retret budaya, kemurahan hati orang Bali tidak dapat disaingi.

Mekotek In Munggu Village Bali.jpg

Salah satu cara yang paling populer dan mudah diakses untuk merasakan budaya Bali secara otentik adalah dengan mengunjungi sebuah desa pariwisata. Mungkin desa pariwisata yang paling terkenal di Bali adalah Desa Penglipuran, karena beberapa kali meraih penghargaan Best Tourism Village in the World dari Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO).

Desa wisata terkenal lainnya mencakup Desa Taro, rumah bagi sapi putih suci milik Bali, serta Munduk, Sidemen, dan Pemuteran, yang merupakan salah satu destinasi yang sedang naik daun di Bali…kamu dengar di sini dulu!

Pemerintah Kabupaten Badung telah mengonfirmasi bahwa mereka akan mengembangkan lima desa wisata baru di wilayah tersebut pada 2026. Kabupaten Badung menjadi rumah bagi destinasi-destinasi utama, termasuk Kuta, Legian, Seminyak, Canggu, dan Uluwatu.

Kepala Divisi Destinasi Pariwisata Badung, I Gede Made Sukayasa, telah mengatakan kepada sejumlah wartawan bahwa pembangunan akan dilakukan di lima desa wisata: Desa Wisata Kapal, Desa Wisata Petang, Desa Munggu, Desa Bongkasa Pertiwi, dan Desa Pangsan. Kelima desa ini termasuk di antara delapan belas desa wisata total di Kabupaten Badung. 

Sukayasa mengatakan kepada wartawan, “Tahun ini, kami meningkatkan infrastruktur lima desa sesuai dengan visi dan misi kepemimpinan. Hampir semua kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kekurangan infrastruktur pada tahun-tahun sebelumnya.” Salah satu proyek pengembangan teratas di awal tahun adalah penyelesaian Patung Siat Tipat di Desa Wisata Kapal. 

Dia menjelaskan, “Pembangunan patung Siat Tipat, yang terletak di depan Wantilan Desa di Kapal, didasarkan pada masukan dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) tahun lalu. Kami saat ini sedang mengeksplorasi desainnya untuk memastikan itu ideal dan selaras dengan kearifan lokal.”

Sukayasa menekankan bahwa patung baru ini penting sebagai simbol dan identitas pariwisata untuk Desa Kapal. Tradisi Siat Tipat adalah bagian dari upacara Aci Tabuh Rah Pengangon, yang diadakan setiap tahun oleh komunitas setempat, khususnya pada purnama Sasih Kapat.

Tradisi tersebut juga dimasukkan dalam kalender acara pariwisata resmi Kabupaten Badung. Monumen baru ini diperkirakan akan memperkuat daya tarik pariwisata berbasis budaya.

Dia menambahkan, “Sama halnya dengan Desa Munggu yang sudah memiliki monumen terkait tradisi dan kearifan lokal, dengan monumen Mekotek-nya, kami membangun hal yang sama di Desa Kapal.”

Desa Munggu mungkin adalah yang paling mapan di antara desa wisata baru ini. Sukayasa menjelaskan, “Untuk Desa Munggu, kami merancang fasilitas pendukung lebih lanjut, seperti sebuah taman dan ruang ekonomi kreatif, jika pendanaan cukup.”

Desa Munggu juga diperlakukan sebagai Taman Budaya. Meskipun ukurannya secara signifikan lebih kecil daripada GWK Cultural Park, ada harapan bahwa Desa Munggu dapat menyatukan nuansa desa wisata, dengan kualitas tingkat atraksi wisata GWK yang lebih besar. 

Community-In-Munggu-Village-In-Badung-Bali-Prepare-For-Ceremony-

Ada banyak hal yang dinanti wisatawan di desa-desa wisata yang sedang berkembang ini, baik dari sisi peningkatan akses maupun peningkatan program wisata. Sukayasa menegaskan bahwa di Desa Wisata Petang, akses menuju air terjun kembar yang menakjubkan akan dibuat lebih aman dan lebih mudah.

Dia menjelaskan bahwa Wayan Adi Arnawa telah mengonfirmasi bahwa dirinya dan timnya bekerja sama dengan Desa Wisata Munggu untuk menciptakan Mekotek Park yang baru.

Mekotek in Munggu Village in Bali

Regent Arnawa mengatakan kepada wartawan, “Pembangunan monumen ini sejalan dengan visi Badung untuk menciptakan pariwisata yang berkualitas dan merupakan manifestasi nyata dari pelestarian tradisi, seni, dan budaya.”

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar