Berlangsung hingga 31 Desember, pameran temporer terbaru museum ini, KukuruYUK!: Ragam Motif Ayam Dalam Batik Indonesia (KukuruYUK!: Berbagai motif ayam dalam batik Indonesia), mengeksplorasi bagaimana unggas sederhana ini telah digambarkan dalam batik di berbagai wilayah dan era.
“Gagasan ini muncul pertama kali ketika kami menjelajahi koleksi museum untuk melihat hewan apa saja yang muncul dalam batik,” kata kurator Swa Adinegoro pada pembukaan pameran pada 20 Oktober. “Kaget kami mendapati begitu banyak pola ayam dalam berbagai bentuk dan gaya.”
Menurut Swa, motif ayam tersebar luas karena unggas ini adalah kehadiran yang akrab di seluruh kepulauan.
Pameran ini menampilkan 26 potong batik dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari 1950-an hingga sekarang. Dua puluh empat di antaranya berasal dari koleksi museum sendiri, sedangkan dua lainnya dipinjamkan dari kolektor swasta.
Museum Batik Indonesia menyimpan sekitar 900 potong batik, mulai dari awal abad ke-20 hingga sekarang. Di tujuh galeri yang dimilikinya, pengunjung menelusuri warisan batik Indonesia melalui koleksi batik yang luas, dengan alat canting, cap tembaga, blok lilin, dan pewarna alami yang memberikan gambaran tentang kerajinan tersebut.
Di ujung galeri yang jauh, manekin yang mengenakan busana bergaya Dodotan dalam warna cokelat sogan pekat membangkitkan kemegahan sunyi istana-istana Jawa.