Berbeda dengan biografi faktual Jokowi dan Indonesia Baru karya Darmawan Prasodjo, yang pada tahun 2021 menelusuri kampanye pertama Jokowi dan masa jabatannya dari perspektif orang dalam, sebuah catatan yang luar biasa baik menurut ukuran apa pun, buku ini bertujuan bukan untuk memberikan sebuah biografi tetapi lebih kepada studi tentang kepresidenan tukang kayu yang sederhana yang telah menempatkan Republik Indonesia pada jalur transformasi.
“Penghematan dari pengurangan subsidi bensin dialihkan ke program kesejahteraan sosial, yang menyebabkan perluasan sistem jaminan sosial digital yang semi-universal.” — Jean Couteau
Couteau menjelaskan bahwa lingkaran dalam Jokowi pertama kali memperhatikan setelah menikmati salah satu kolomnya di Kompas (Udar Rasa) tentang Pemilihan Presiden 2019, terutama pandangannya mengenai pakaian kampanye dan simbolisme, dan ia menerima proyek itu setelah diyakinkan memiliki akses ke survei, dokumentasi, orang dalam, kesaksian, dan percakapan langsung dengan presiden.
Jadi, jika ini bukan biografi tradisional, lalu apa sebenarnya? Couteau menelaah gaya kepemimpinan Jokowi, kebijakan-kebijakannya, dan tantangan-tantangannya, sambil menempatkannya dalam sejarah Indonesia yang lebih luas dan sistem politiknya. Ia juga memproyeksikan warisan presiden ketujuh itu ke dalam tahun pertama masa jabatan presiden terpilih baru, Prabowo Subianto. Couteau menggambarkan satu dekade masa jabatan Jokowi dengan gambaran “realisme progresif,” sebuah fokus pada pembangunan praktis, seperti infrastruktur dan industri, meskipun itu berarti membengkokkan cita-cita demokratis. Menurut pandangannya, Jokowi berupaya menyeimbangkan pembangunan dengan demokrasi, terkadang lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dan program sosial ketimbang kepatuhan yang ketat terhadap proses demokratis.
Sebagai mantan tukang kayu, presiden adalah orang yang bertindak