Yanti, seorang manajer berusia 48 tahun di sebuah lembaga keuangan di Jakarta, mengalami kejadian ini suatu malam setelah hari kerja yang panjang. Saat ia pulang, putrinya yang remaja, Alia, masih mengenakan seragam sekolahnya, duduk di ruang tamu dan asyik bermain game di ponselnya. Paket camilan kosong berserakan di sofa.
“Melihatnya seperti itu, aku hanya menanyakan satu pertanyaan sederhana: ‘Mengapa kamu belum mandi?’” kenang Yanti.
Responnya membuatnya terpukul. Gadis berusia 13 tahun itu melemparkan ponselnya ke sofa dan menyatakan bahwa ibunya tidak seharusnya pulang sama sekali jika yang ia inginkan hanyalah mengganggunya. Ia lalu bergegas ke kamarnya dan membanting pintu.
Yanti terpaku, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
“Apa yang salah dengan diriku?” tanya Yanti.
Adegan seperti ini semakin akrab bagi orang tua yang memiliki remaja. Komentar kecil bisa dengan cepat memicu keretakan emosional, membuat orang dewasa tidak yakin apakah mereka telah melangkah batas atau hanya tidak sejalan dengan dunia anak-anak mereka.