Diselenggarakan pada 3 hingga 5 Oktober, acara tiga hari itu berfungsi sebagai pembuka biennale, yang berlangsung hingga 25 Oktober di Bandung.
Tema festival ini, Menata Gelap (Looking after the Dark), mengundang para seniman dan desainer untuk memikirkan ulang arti kegelapan bagi kota, bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai keadaan yang penuh potensi.
“Kegelapan dapat dieksplorasi sebagai sumber ide dan imajinasi,” kata Prananda L. Malasan, kurator BDB 2025 dan asisten profesor di Fakultas Seni dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelang pembukaan festival.
Penyelenggara mengumpulkan 25 kolektif dan seniman untuk menjelajahi hubungan antara cahaya dan bayangan di ruang-ruang urban Bandung.
Di antara mereka, seniman Dearista, bekerja sama dengan OSTUDIO, mempersembahkan Resonora, sebuah instalasi yang terbuat dari lembar kain polos yang didaur ulang yang diterangi oleh proyeksi warna yang bergerak. Nuansa-nuansa tersebut berasal dari rekaman suara yang diambil di berbagai sudut kota, yang mengubah ruang itu menjadi lanskap akustik yang bersinar. Pengunjung bergerak di antara kain-kain yang digantung, terbenam dalam rekonstruksi sensorik atas suasana kota yang berlapis-lapis.