Perjalanan Seorang Profesor Indonesia: Memikirkan Motivasi Lintas Budaya

28 Desember 2025

Salah satu temuan utama dari penelitian Assoc Prof Arief Liem adalah bahwa pendorong motivasi seperti kewajiban atau tanggung jawab relasional, yang sering diberi label “dikendalikan” dalam teori Barat, dapat berfungsi secara adaptif di budaya yang saling bergantung.

“Temuan ini menantang asumsi yang berlaku dan menyoroti kebutuhan akan kerangka motivasi yang lebih inklusif secara budaya,” jelasnya.

Seorang profesor madya dalam grup akademik Psikologi dan Perkembangan Anak & Manusia di National Institute of Education, Nanyang Technological University, Singapura (NIE NTU, Singapura), Assoc Prof Arief Liem fokus pada motivasi dan keterlibatan siswa, serta pengaruh sosiokultural yang membentuk konsep diri, agensi, dan pembelajaran siswa.

“Saya meneliti bagaimana hubungan dengan orang tua, guru, dan teman sebaya berfungsi sebagai kekuatan motivasional yang memengaruhi ketekunan dan kesejahteraan siswa,” tambahnya.

Asli dari Bandung, Indonesia, jalur akademik Assoc Prof Arief Liem berakar pada rasa ingin tahu yang mendalam tentang mengapa siswa belajar secara berbeda di berbagai latar budaya. Minatnya pada penelitian lahir dari keinginan untuk menjembatani teori dan praktik dengan memahami bahwa siswa bukan sekadar pembelajar di dalam kelas, melainkan individu yang dibentuk oleh dunia sosial dan budaya.

“Saya selalu tertarik mengapa siswa dari berbagai latar budaya mendekati pembelajaran secara berbeda,” katanya. “Pengalaman mengajar dan riset saya di konteks Asia dan Barat menginspirasi saya untuk mengeksplorasi bagaimana budaya dan hubungan mempengaruhi rasa diri siswa serta motivasi mereka untuk belajar.”

Renungan-renungan ini sangat selaras dengan lanskap pendidikan Indonesia saat ini. Dengan inisiatif seperti Merdeka Belajar (Kebebasan untuk Belajar) yang mendorong pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, memahami dasar budaya motivasi menjadi semakin penting bagi para guru, pemimpin sekolah, dan pembuat kebijakan.

Assoc Prof Arief Liem menekankan bahwa mengembangkan pemahaman motivasi siswa yang lebih berlandaskan budaya memerlukan melampaui sifat-sifat individu untuk mencakup dimensi sosial dan relasional. Risetnya bertujuan memberi informasi bagi praktik pendidikan yang membina keunggulan akademik sekaligus keterhubungan sosial.

Di ruang kelas yang sekarang ini globalisasi namun beragam, perspektif ini sangat penting. “Memahami bagaimana nilai-nilai budaya membentuk motivasi membantu pendidik merancang lingkungan pembelajaran yang inklusif, mendukung, dan responsif terhadap siswa dari latar budaya yang berbeda,” ujarnya.

Salah satu tantangan yang ia perkirakan dalam perjalanan penelitiannya adalah menjembatani teori-teori yang dikembangkan dalam konteks Barat dengan realitas sekolah-sekolah Asia. Untuk mengatasinya, ia melakukan analisis kuantitatif ekstensif dan bekerja sama erat dengan peneliti regional maupun internasional yang menawarkan perspektif kontekstual berharga.

Melalui pengalaman-pengalaman ini, Assoc Prof Arief Liem merasa sangat puas ketika karyanya menjembatani teori dan praktik, ketika para guru dan pembuat kebijakan menemukan risetnya berguna untuk memahami siswa secara lebih holistik dan membentuk lingkungan sekolah yang lebih peduli dan memotivasi.

Ketika ditanya apa yang mungkin akan dia lakukan berbeda jika bisa memulai lagi, ia merenung, “Saya akan melibatkan praktisi lebih awal lagi dalam proses penelitian. Wawasan mereka sangat berharga untuk membentuk pertanyaan-pertanyaan yang paling penting di lapangan dan memastikan penelitian memberikan kontribusi yang berarti bagi peningkatan pendidikan.”

Bagi para pendidik dan peneliti Indonesia yang mempertimbangkan Doktor Filsafat (PhD) di NIE, Assoc Prof Arief Liem menawarkan dua saran kunci. Pertama, pilih topik yang benar-benar penting bagi Anda. PhD adalah perjalanan intelektual maupun pribadi—satu yang menuntut rasa ingin tahu, ketekunan, dan gairah yang tulus. Kedua, temukan pembimbing yang tepat. Carilah seseorang yang tidak hanya memiliki rekam jejak penelitian yang kuat tetapi juga berkomitmen membimbing Anda dengan ketelitian intelektual dan perhatian yang tulus.

Ia menambahkan, “NIE menawarkan lingkungan yang sangat baik untuk studi doktoral: komunitas akademik yang dinamis, pembimbing yang berdedikasi, dan riset yang terhubung secara mendalam dengan praktik dan kebijakan pendidikan. Bagi siapa pun yang masih ragu, saya katakan bahwa mengejar PhD di NIE tidak sekadar meraih gelar, melainkan bergabung dengan komunitas yang berkomitmen untuk memajukan pendidikan dan memberi dampak yang berarti.”

Jika Anda memiliki minat yang sama dengan Assoc Prof Gregory Arief D. Liem pada motivasi dan kesejahteraan siswa, NIE saat ini menerima aplikasi untuk program pascasarjana untuk penerimaan Agustus 2026. Daftar sebelum 29 Desember 2025 https://ntu.sg/nieGradProgIntake.

Dengan lebih dari 30 program pascasarjana, National Institute of Education (NIE) adalah sebuah institut otonom di bawah Nanyang Technological University (NTU), Singapura. NTU berada di antara 12 universitas teratas di dunia dan tiga institusi pendidikan teratas di Asia menurut QS World University Rankings by Subject.

.


Artikel ini merupakan kemitraan dengan National Institute of Education Singapore
Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar