Penelitian yang diterbitkan pada hari Kamis ini mengisi kekosongan penting dalam pengetahuan tentang spesies yang terancam punah, dan membangun kasus untuk perlindungan yang lebih besar terhadap teluk-teluk Indonesia yang menjadi tempat berkumpulnya spesies tersebut, kata para ilmuwan.
HiU paus, yang sebenarnya termasuk jenis hiu, bukan paus, menghadapi ancaman-ancaman seperti polusi, pariwisata, dan tabrakan dengan kapal.
Sementara kulitnya yang beracak-acak bercak dan ukuran yang menakjubkan membuat hiu paus mudah dikenali dan menarik bagi wisatawan, sedikit yang diketahui tentang bagaimana spesies ini bergerak di antara titik-titik berkumpul yang sudah mapan.
Para peneliti di Indonesia bertujuan mengubah hal itu dengan menandai hiu paus Indo-Pasifik, yang mewakili sekitar 60 persen dari spesies tersebut, dan melacak pergerakan mereka.
Selama lebih dari satu dekade, mereka memasang tag pada 70 hiu paus di lokasi-lokasi di Indonesia. Beberapa di antaranya dilacak hampir tiga tahun.
“Kami sebenarnya bisa memetakan atau mengidentifikasi banyak variasi pergerakan hiu paus,” ujar Mochamad Iqbal Herwata Putra, penulis utama studi ini.
“Hiu paus yang kami pasang tagnya bergerak melalui perairan 13 negara berbeda serta lautan lepas pantai,” katanya kepada AFP.
Penelitian ini, yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Marine Science, juga mengungkapkan bahwa dua teluk di Indonesia menjadi rumah hiu paus sepanjang tahun, bukan musiman seperti yang sebelumnya diperkirakan.
“Ini sangat unik,” kata Putra, manajer senior konservasi spesies fokus di NGO Konservasi Indonesia.
Sementara sebagian besar “titik agregasi” untuk hiu paus diyakini sebagai tempat berkumpul musiman, Teluk Cenderawasih di provinsi Papua Indonesia dan Teluk Saleh di Sumbawa adalah “rumah bagi mereka”, kata Putra.
Kombinasi perlindungan dari predator dan ketersediaan makanan yang tinggi seperti kril menjadikan teluk-teluk tersebut hotspot penting, dengan beberapa bukti bahwa mereka juga bisa berfungsi sebagai habitat pemijahan.
Teluk Cenderawasih sudah dilindungi sebagai taman nasional, dan lokasinya yang terpencil telah membantu meredam dampak pariwisata massal.
Namun Teluk Saleh adalah tempat yang populer bagi pengunjung dan berada di wilayah dengan produksi jagung yang berkembang pesat di darat serta akuakultur di laut.
Kedua industri ini dapat menghasilkan polusi — termasuk limpasan pestisida dan sedimentasi — yang berdampak pada kualitas air dan hiu paus.
Putra mencatat bahwa Indonesia telah mencatat puluhan kejadian hiu paus terdampar dalam beberapa tahun terakhir. Polusi dan interaksi dengan kapal penangkap ikan diduga menjadi salah satu penyebabnya.
Konservasi Indonesia bekerja dengan pemerintah untuk membentuk kawasan perlindungan laut khusus hiu paus pertama negara itu di Teluk Saleh, yang menurut Putra diharapkan akan diberlakukan tahun ini.