Bali telah merayakan pembukaan taman budaya baru. Dengan keberhasilan besar atraksi kelas dunia seperti GWK Cultural Park, para pemimpin kini berupaya mengembangkan taman budaya tambahan untuk menampilkan elemen-elemen kehidupan Bali yang lebih bernuansa dan spesifik lokasi.

Bupati Badung, Wayan Adi Arnawa, telah mengonfirmasi bahwa ia dan timnya telah bekerja sama dengan Desa Wisata Munggu untuk menciptakan Mekotek Park yang baru. Bupati Arnawa berkata kepada wartawan, “Pembangunan monumen ini selaras dengan visi Badung untuk menciptakan pariwisata berkualitas dan merupakan manifestasi nyata pelestarian tradisi, seni, dan budaya.”
Mekotek adalah ritual tradisional yang dilakukan oleh Desa Munggu untuk menjauhi bencana dan roh jahat. Ini adalah ritual yang spesifik untuk Desa Munggu, dan kini komunitas serta pemerintah kabupaten bersatu untuk menggunakan praktik budaya unik ini sebagai pintu gerbang bagi wisatawan untuk menjelajahi budaya Bali dan kehidupan desa pada tingkat yang lebih dalam.
Bupati Arnawa mengonfirmasi kepada wartawan bahwa Mekotek Park didirikan dengan pendanaan sebesar IDR 2,4 miliar dari pemerintah Kabupaten Badung. Ia mengungkapkan harapannya tentang dampak yang akan dimiliki taman budaya baru ini terhadap wisatawan, sektor pariwisata di Badung, dan Indonesia secara lebih luas.
Bupati Arnawa berbagi, “Kami menghargai keberhasilan komunitas dalam mengembangkan potensi desa mereka. Ini akan menjadi warisan bagi anak-anak dan cucu kami, meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan komunitas.”
Ia membagikan harapannya bahwa Mekotek Cultural Park akhirnya akan menjadi destinasi pariwisata edukatif serta daya tarik budaya.
Bupati membagikan visinya bahwa taman ini akan menjadi destinasi yang dapat dikunjungi oleh kelompok sekolah dan tur edukatif dari seluruh Indonesia maupun dunia. Ia ingin melihat para pemuda dari seluruh Bali datang mengunjungi Mekotek Cultural Park, serta turis internasional.
Seiring dengan semua ini, Bupati Arnawa optimis bahwa taman budaya ini akan membantu anggota komunitas lokal membuka usaha kecil baru yang akan meningkatkan penghidupan mereka dan juga meningkatkan pengalaman wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata Badung, Nyoman Ruidarta, mengatakan kepada wartawan bahwa mendukung pengembangan Mekotek Cultural Park adalah contoh utama bagaimana mendukung komunitas lokal adalah akar kesuksesan di sektor pariwisata.
Ia menambahkan, “Monumen ini juga sangat cocok untuk dijadikan sudut ekonomi kreatif dan pusat ekonomi kreatif.”

Mekotek Cultural Park dapat ditemukan di Desa Munggu, tepatnya di dekat lampu lalu lintas Tanah Lot Bypass. Pembukaan atraksi pariwisata baru ini menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan yang besar bagi komunitas lokal serta para seniman setempat yang telah lama berinvestasi dalam pendirian taman ini.
Taman budaya ini menjadi rumah bagi instalasi seni, termasuk patung-patung menawan, dan akan menyelenggarakan berbagai pertunjukan mulai dari tarian budaya hingga ritual dan upacara.

Taman ini juga memiliki patung Mekotek permanen yang terinspirasi Mekotek, yang dibuat oleh seluruh seniman lokal. Koordinator Tim Seniman I Nyoman Ardana menjelaskan bahwa ide untuk patung Mekotek sebenarnya telah diajukan pada 2013. Setelah dua belas tahun, ide itu akhirnya terwujud.
Ardana kepada wartawan, “Ide ini telah ada sejak 2013, artinya dua belas tahun lalu. Usulan ini berasal dari komunitas, pematung, dan pemimpin desa. Dari sana, proses perencanaan di desa berkembang, akhirnya masuk ke anggaran, dan akhirnya mencapai Kantor Pariwisata Badung.”
Ia menjelaskan bahwa selain menjadi fitur yang menakjubkan pada taman budaya yang baru, tim seniman ingin menciptakan landmark baru bagi Desa Munggu yang benar-benar akan menempatkan komunitas itu di peta. Ardana menjelaskan, “Desa lain menciptakan patung ikonik meskipun tidak memiliki tradisi. Misalnya, Pererenan menciptakan patung Gajah Mina.”

“Ya, kita memiliki tradisi, mengapa tidak dikemas menjadi monumen? Sehingga ketika orang melihat patung Mekotek, mereka langsung teringat bahwa mereka telah tiba di Munggu. Tidak lagi menggunakan tolok ukur, oh, di persimpangan Munggu ada pohon banyan.”