Mematikan layar, hidup lebih berarti: Pergeseran sunyi Indonesia menuju JOMO

18 Maret 2026

Galuh sebagian besar menggunakan email, diakses melalui laptopnya, untuk berkomunikasi dan menanggapi pesan WhatsApp hanya dari anggota keluarga atau teman dekat, karena dia merasa teleponnya mengganggu.

Di era digital di mana orang bergantung pada perangkat mereka untuk pembaruan berita, hubungan sosial, dan hiburan, beberapa orang memilih menghabiskan waktu lebih sedikit di ponsel mereka untuk memiliki kehidupan yang lebih seimbang, termasuk Galuh.

Dia terutama menggunakan ponselnya untuk keperluan praktis, seperti mendapatkan arahan dari aplikasi peta, melakukan pembayaran digital, atau mencatat hal-hal.

“Saya jarang memeriksa ponsel karena saya merasa ketika saya berada di satu tempat, saya tidak hanya fokus pada diri saya sendiri, melainkan juga pikiran dan hati saya. Dan itu membutuhkan fokus,” katanya. “Rasanya aneh, kan, ketika Anda sedang berbicara dengan orang dan mata Anda terus mengalihkan pandangan?”

Di antara beragam platform media sosial, Galuh hanya memiliki akun X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, yang dia gunakan untuk mengikuti berita terkini. Dia lebih suka platform itu karena formatnya berbasis teks, yang dia anggap lebih tenang dibandingkan platform yang penuh gambar dan video.

Dia pernah memiliki akun Instagram, tetapi menonaktifkannya setelah merasa tidak nyaman dengan bagaimana hidupnya ditampilkan secara online dan seberapa sedikit hal itu mencerminkan dirinya yang sebenarnya.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar