Dengan begitu banyak siluet, nuansa warna, dan pernyataan yang bersaing untuk menarik perhatian, memilih busana yang tepat bisa terasa membingungkan. Untuk membantu menavigasi labirin gaya ini, beberapa desainer terkemuka negara ini berbagi cara memasuki Lebaran dengan rapi dan percaya diri.
Sementara putih dan putih gading tetap menjadi favorit abadi musim perayaan, mereka tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan.
“Orang-orang dulu mengenakan busana yang sama sejak shalat Subuh di masjid hingga kunjungan mereka kepada teman dan kerabat,” ujar perancang busana modest wear Itang Yunasz.
“Sekarang berbeda. Putih atau gading masih terasa tepat untuk masjid, tetapi nanti, saat mereka keluar untuk menghabiskan hari berkunjung ke keluarga dan teman, mereka biasanya berganti dengan sesuatu yang lebih bergaya dan meriah,” katanya.
Itang memperkenalkan kreasinya untuk Lebaran tahun ini pada 9 Februari di Menara Sopo Del di Jakarta Selatan. Deretannya menggabungkan dua tekstil Batak karya Tobatenun: ulos Ragi Hotang, dikenal karena motif anyaman sulur rotan yang saling terkait, dan ulos Sadum, dihiasi dengan desain geometris berulang yang terinspirasi dari seni Arabesque.
Tekstil-tekstil itu dipadukan dengan panel rayon, linen, dan viscose bambu dalam palet yang didominasi oleh nuansa biru dan warna bumi, sementara aksen anggur yang berani memberi busana itu nuansa segar dan kontemporer.