Di dalam hall-hall kilau Nusantara International Convention Exhibition (NICE), alunan jazz mengalir di malam hari saat para pengunjung festival terpikat oleh penyanyi R&B seperti Ella Mai dan Daniel Caesar dan kembali terpesona oleh favorit lokal seperti Dira Sugandi dan Andien.
Adegan-adegan itu terasa akrab di festival yang telah kembali dengan konsistensi luar biasa selama lebih dari dua dekade. Hanya pandemi COVID-19 yang bisa menghentikan pertunjukan pada 2021.
Meski begitu, International Java Jazz Festival 2026 hadir pada saat yang menantang bagi industri musik live yang telah melihat beberapa festival besar mengurangi operasionalnya dan menunda pertunjukan tahunan sejak tahun lalu, karena biaya produksi yang meningkat dan lanskap pasar yang berubah.
Java Jazz memang organisme yang sepenuhnya berbeda. Sejak didirikan pada 2005, festival tiga hari ini telah menjadi wadah budaya yang paling andal di negara ini dan tumbuh menjadi salah satu acara jazz terbesar di dunia, secara teratur menarik penampil utama internasional sambil memperkenalkan seniman dan genre yang mungkin tidak akan ditemui penonton jika tidak ada festival ini.
“Kami naik ke panggung tanpa daftar lagu sama sekali, dan inilah yang telah kami asah selama bertahun-tahun.” — Kenny Gabriel, bassist synth, Batavia Collective
Tahun ini pun tidak berbeda. Memasuki tahun ke-21, perubahan terbesar yang dilakukan penyelenggara festival sebagian besar bersifat logistik: Java Jazz kini pindah dari rumahnya di Jakarta International Expo di Kemayoran, Jakarta Pusat, ke kompleks NICE yang baru di PIK 2, Tangerang, Banten.