Kepulangannya menjadi titik awal bagi Setelah Multatuli Pergi, sebuah dokumenter yang disutradarai Yogi D. Sumule, dan Lebak, Kota Multatuli: Terjebak antara Feodalisme Lokal dan Kolonialisme Belanda (Lebak, Kota Multatuli: Terjebak Antara Feodalisme Lokal dan Kolonial Belanda), sebuah buku karya Onderdenwijngaard yang menelaah perubahan sosial dan budaya di Lebak serta bagaimana gagasan Multatuli telah bergema sepanjang generasi.
Eduard Douwes Dekker, lebih dikenal dengan nama pena Multatuli, adalah seorang pejabat kolonial Belanda yang menghabiskan beberapa bulan sebagai asisten residen Lebak pada tahun 1850-an. Setelah berselisih dengan administrasi kolonial mengenai perlakuannya terhadap masyarakat adat, ia mengundurkan diri dan kemudian menulis Max Havelaar, sebuah novel yang mengungkap penindasan dan korupsi di bawah Sistem Tanam Paksa di Hindia Belanda.
Film dan buku itu dipresentasikan di Erasmus Huis di Jakarta pada pemutaran baru-baru ini, peluncuran buku, dan diskusi yang menampilkan Onderdenwijngaard serta sejarawan Andi Achdian.
Onderdenwijngaard pertama kali mengunjungi Badur pada tahun 1987, ketika ia merekam kehidupan sehari-hari penduduknya. Pada 2019, ia kembali untuk menemukan beberapa wajah yang familiar dan melihat bagaimana kehidupan mereka telah berubah.
Rasif, salah satu orang yang ditampilkan dalam film itu, pernah tinggal di sebuah rumah kayu tradisional. Setelah bertahun-tahun bekerja keras, ia akhirnya bisa membangun sebuah rumah bata, tanda kemajuan ekonomi yang sederhana namun nyata, kata Onderdenwijngaard selama diskusi.
Namun kemajuan itu tidak merata.