Banjir Mematikan di Sumatera Memusnahkan Setidaknya 7% Populasi Orangutan Langka, Laporan Menyatakan

18 Juni 2026

Banjir dan tanah longsor yang disebabkan siklon telah menewaskan setidaknya 1.200 orang dan merusak sekitar 300.000 rumah, sementara kelompok lingkungan menuding luasnya kerusakan disebabkan oleh deforestasi cepat di Pulau Sumatera.

Setidaknya 58 orangutan Tapanuli, yang endemik di wilayah sekitar hutan Batang Toru di utara Sumatera, tewas akibat banjir tersebut, menurut laporan yang mengutip survei terhadap blok barat hutan itu yang menjadi rumah bagi sebagian besar populasi total 800 primata.

Laporan tersebut adalah studi bersama antara Borneo Futures yang berbasis di Brunei, World Weather Attribution, dan Liverpool John Moores University; studi tersebut tidak melakukan survei terhadap bagian lain hutan, yang berarti jumlah kematian bisa saja lebih tinggi.

Temuan itu diperoleh dari analisis citra satelit kerusakan pada Blok Barat Batang Toru dan catatan historis populasi orangutan di sana.

Perubahan iklim yang disebabkan manusia kemungkinan telah meningkatkan intensitas dan frekuensi hujan ekstrem di sekitar Selat Malaka, yang meningkatkan risiko habitat orangutan Tapanuli, kata studi tersebut.

Erik Meijaard dari Borneo Futures, yang merupakan penulis utama studi tersebut, mengatakan hujan deras meresapkan tanah hingga ke dalamnya sehingga banyak bagian lereng di hutan primer runtuh dalam tanah longsor yang bergerak cepat.

“Jika seekor orangutan terjebak… jika sesuatu jatuh dengan kecepatan tinggi, peluang bertahan hidupnya akan sangat minim, jadi hal ini menjadi kekhawatiran nyata,” ujarnya.

“Tingkat kehilangan seperti ini cukup signifikan untuk sebuah spesies dengan populasi total yang sangat kecil. Ketika dipadukan dengan tekanan yang berkelanjutan seperti degradasi habitat dan konflik manusia-satwa liar, hal itu semakin meningkatkan urgensi untuk menerapkan dan membiayai secara memadai rencana tindakan spesies yang terkoordinasi,” tambah Meijaard.

Panut Hadisiswoyo, peneliti lain, mendesak pemerintah Indonesia untuk bekerja sama dengan LSM dan peneliti guna mencegah penurunan populasi orangutan lebih lanjut.

“Kita bisa meminimalkan perburuan atau pemburuan liar dan kemudian jumlahnya mungkin bisa distabilkan,” katanya, menambahkan bahwa semua pihak harus memperhatikan penggunaan lahan yang buruk, yang juga berkontribusi pada penurunan populasi.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar